Wednesday , May 23 2018

TRILOGI MALAQBI’ (sebuah pengantar)

KandoraNews.com

Oleh : SYARIFUDDIN MANDEGAR

(Pemerhati Sosial)

Malaqbi’ adalah sebuah kata yang memiliki makna mulia dan bermartabat yang mengikat kesatuan gerak heterogenitas masyarakat Sulawesi Barat dan terintegrasi secara priskologis pada diri setiap individu dan masyarakat. Integritas itu merupakan kesatuan nilai yang dipandang sebagai lentera hidup manusia yang terejawantahkan dalam sikap, perilaku dan tindakan dalam realitas social.

Esensi Malaqbiq ini pada hakekatnya adalah identitas yang menggambarkan suatu kehidupan masyarakat yang mulia, terhormat dan bermartabat sebagai bentuk normatifitas kehidupan masyarakat Sulawesi Barat yang tidak sekadar menjadi jargon territorial tetapi merupakan pandangan dunia yang tertata secara rapih sebagaimana hakekat kehidupan yang sebenarnya. Perwujudan nilai-nilai Malaqbi dalam heterogenitas masyarakat Sulawesi Barat merupakan paradigma sosial-budaya yang menginginkan adanya relasi antara sikap, perilaku dan tindakan yang tidak bebas nilai tetapi merupakan jalan untuk mewujudkan kesamaan persepsi dan paradigma dalam memandang ekonomi, politik, social dan budaya yang bergerak secara dinamis melewati garis sejarah atas prakarsa ide atau gagasan besar manusia sejak abad tradisional, pertengahan dan modern. secara relative ada yang bercorak materiliasme dan ada pula yang bercorak tauhid. Kedua hal itu akan mempengaruhi pola sikap, perilaku dan tindakan manusia dalam membangun relasi kolektifitas kehidupan sosial.

Dalam konteks kebudayaan mandar “Malaqbiq” merujuk kepada sikap dan perilaku seseorang yang dianggap sebagai tokoh panutan masyarakat sehingga disebut sebagai “annangguru”. Kata annangguru berasal dari kata “anreguru” kemudian berubah menjadi “annangguru” yang berarti gurutta atau anregurutta yang dikenal juga pada masyarakat bugis. Label “annangguru” mencirikan manusia yang malaqbiq atau yang dijadikan sebagai panutan masyarakat. Tetapi, Terlepas dari lebel Malaqbi yang dilekatkan pada diri annangguru, penulis hanya ingin mengkaji makna Malaqbiq secara universal bukan hanya sebagai label pada diri seorang tokoh tetapi “Kata Malaqbiq” itu sendiri adalah potensi manusia untuk menjadi mulia atau dalam istilah filsafat disebut Insan Kamil. Kemulian pada diri setiap manusia bukan milik satu individu tetapi lebih pada potensi fitrah manusia, karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang memiliki potensi menjadi “To malaqbiq” sehingga meraih derajat Malaqbiq tergantung kepada kekuatan spritulitas manusia dalam menjaga sikap, perilaku dan tindakannya, sebab Sikap, perilaku dan tindakanlah yang  mencirikan manusia sebagai makhluk rasional bahwa setiap tindakannya berada pada prinsip kebenaran mutlak.

Entitas-entitas kebudayaan dari keragaman suku dan etnis masyarakat Sulawesi Barat bukan tidak mungkin untuk direkayasa menjadi satu kesatuan cara pandang dalam persfektif Malaqbi tanpa mengabaikan perbedaan-perbadaan yang ada, namun dalam konteks itu, malaqbi dipandang sebagai wujud integritas terhadap sikap, perilaku dan tindakan setiap individu. Pada aspek ekonomi politik dan budaya adalah entitas-entitas sosial yang diikat dengan nilai-nilai malaqbi, Ekonomi adalah hak dasar manusia untuk melangsungkan kehidupannya sedangkan politik adalah kuasa kebijakan sosial untuk menciptakan kasalehan sosial setiap individu dan budaya adalah meta sosial yang menciptakan takaran-takaran sikap, perilaku dan tindakan yang kesemuanya itu merupakan hasrat Malaqbi yang tidak terpisahkan satu sama lainnya.

Buramnya originalitas budaya dan rapuhnya system sosial-politik bukanlah anak yang lahir tanpa induk tetapi fakta itu adalah buah dari ketidak jujuran sikap, perilaku dan tindakan kita yang menjauhkan kita dari nilai-nilai Malaqbi, sehingga itulah saya sangat tertarik menyebut Malaqbi sebagai konsep Universalitas nilai kebudayaan Masyarakat Sulawesi Barat yang selama ini telah kita jauhi. Karena itu penulis sangat tertarik menyelami akar filsafat Malaqbi ini dengan menghubungkan antara sikap, perilaku dan tindakan sebagai satu kesatuan nilai. Ibarat tubuh dimana akal dan jiwanya tidak berada diluar relatitas diri kita tetapi akal dan jiwa itu adalah diri kita sendiri. Begitulah Trilogi Malaqbi yakni sikap, perilaku dan tindakan tidak berada diluar Malaqbi artinya ketika kita menilai sebuah perilaku, jika perilaku itu tidak mecerminkan kemuliaan dan kesuciaan maka perilaku itu tidak bisa dikatakan Malaqbi tetapi bentuk pertentangan terhadap Malaqbi karena Malaqbi selalu mempersyaratkan kemuliaan jadi jika tidak mulia atau suci bukanlah Malaqbi.

Keniscayaan hidup yang tidak dapat dihindari adalah setiap manusia akan diperhadapkan pada pilihan baik dan buruk, walaupun keburukan itu sebenarnya tidak memiliki kemandirian wujud diluar diri kita karena semua yang tercipta di alam mini semuanya adalah baik karena mustahil Allah yang Maha Mulia menciptakan alam ini dalam keadaan buruk karena itu keburukan adalah pilihan kita pada kualitas sikap, perilaku dan tindakan yang menjauhi kebaikan sementara hakekat kemanusiaan adalah untuk kebaikan. Keburukan jika dihubungkan dengan Malaqbi tidak akan bertemu dalam satu esensi bahkan pada entitas-entitas manapun yang ada pada diri manusia sedangkan kebaikan itu sendiri adalah maqom (derajat trasenden) manusia Malaqbi yang membumi. Perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan nilai-nilai Malaqbi tentu akan membentuk kehidupan yang tidak selaras, tidak harmonis, dan meninggalkan budaya sipakalabbi dan sibaliparri bahwa rasa persaudaraan, kekeluargaan, toleransi dan saling membutuhkan berubah menjadi nilai yang terasing dirumahnya sendiri.

**Wassalam**

Comments

comments

Check Also

Persinas Asad Kota Makassar Gelar Pasanggiri 2017

MAKASSAR, kandoranews.com – Pengurus Kota (Pengkot) Perguruan Silat Nasional (Persinas) ASAD Kota Makassar menyelenggarakan turnamen …

Adventorial