Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Monday , November 19 2018

Trasendensia Politik

KandoraNews.com

Oleh : Syarifuddin Mandegar

(Pemerhati Sosial)

Saya tidak sedang menulis tentang politik positivisme, saya juga tidak sedang menceritakan politik materialisme tetapi saya hanya sedang mengingatkan para politisi-politisi agar mereka  menjadi politisi-politisi yang tidak memiliki kedua sifat itu tapi menjadi politisi yang Tauhid!

 

saya sedang membaca pemikiran seorang Sosiolog Muslim yang saya kagumi pemikirannya karena itu saya mengawali tulisan ini, dengan mengutip pemikiran “Ibnu Khaldun” tentang Teori Siklus yang berpandangan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk politik atau social yaitu makhluk yang selalu membutuhkan orang lain dalam mempertahankan kehidupannya sehingga kehidupannya dengan masyarakat dan organisasi social merupakan sebuah kemestian (baca : Mukaddimah 41). Pendapat ini mirip dengan pendapat Al-mawardi dan Ibnu Arabi tetapi Ibnu Arabi lebih pada pemikiran politik monarchy. Lebih lanjut manusia mungkin bisa bertahan hidup dengan makanan. Sedangkan untuk memenuhi makanan yang sedikit dalam waktu satu hari saja memerlukan banyak pekerjaan. Misalnya untuk menghasillan padi menjadi beras butuh proses yang panjang. Dari mulai menanam, memanen, menjemur, dipabrik dan setelah jadi beras. Artinya manusia dalam mempertahankan hidupnya dengan makanan membutuhkan manusia yang lain. Selain itu dalam membela dirinya di depan hokum manusia pasti membutuhkan jasa seorang pengacara begitupun juga untuk terhindar ancaman dari binatang buas, manusia akan membutuhkan seorang yang kuat atau bisa dibilang orang yang memiliki kesaktian untuk menjinakkan binatang buas itu agar terhindar dari bahaya itu tadi. Hal ini karena Allah menciptakan alam semesta telah membagi-bagi kekuatan-kekuatan makhluk hidup bahkan banyak hewan yang memiliki kekuatan lebih dari manusia. Dengan watak agresif yang dimiliki setiap Makhluknya Allah memberikan bentuk-bentuk khusus tubuh untuk menangkal bahaya yang mengancam kehidupannya. Sedangkan manusia diberi akal dan tangan atau kemampuan berpikir dan melakukan sesuatu dengan tanggannya oleh Allah agar manusia mampu menata hidupnya dengan baik.

Pemikiran Ibnu Khaldun itu adalah contoh kecil dari keniscayaan bahwa manusia adalah mahkluk social. Setelah terbentuknya organisasi masyarakat dan inilah peradaban, maka masyarakat memerlukan seorang dari mereka yang dengan pangaruhnya dapat menjadi penengah dan pemisah antara masyarakat. Karena manusia memiliki dua unsur dalam dirinya yaitu kehendak dan keinginan. Kehendak adalah sifat manusia yang dekat dengan sifat-sifat ilahiah. Sedangkam keinginan adalah sifat manusia yang selalu berorientasi pada kenikmatan-kenikmatan dunia. Agar manusia tidak terjebak menjadi manusia-manusia yang tidak adil dan materialism untuk itu diperlukan sesuatu yang lain untuk menangkal sifat-sifat buruk itu, ia adalah dari kalangan masyarakat itu sendiri seorang yang memiliki pengaruh yang kuat untuk membimbing anggota masyarakatnya dengan akal dan tangannya. Akalnya dipenuhi  gagasan-gagasan konstruktif tentang keadilan dan kesejahteraan bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk semua anggota masyarakatnya kemudian tangannya mewujudkan gagasan-gagasan itu tanpa mencederai akhlak atau moralitas.

Pemikiran ini saya coba jadikan alat teropong tentang system di Indonesia yang menganut system demokrasi yang berazaskan  Pancasila dan UUD 1945., dimana Demokrasi adalah cita-cita atau hasrat bernegara. Tetapi kenapa Indonesia belum mencapai demokrasi subtantif…..?? mungkin jawabannya adalah karena bangsa Indonesia belum mampu menciptakan system perpolitikan pancasilais, 5 (lima) sila pancasila belum mampu menjadi cahaya penerang perjalanan politik bangsa ini, dimana Sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) adalah ajaran ketauhidan esoteris dan eksoteris yang menempatkan nilai-nilai  Ketuhanan sebagai budaya politik merupakan jembatan untuk menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab bahwasanya setiap manusia harus memiliki komitmen keumatan dan kebangsaan secara utuh (Persatuan Indonesia) yang berlandaskan pada nilai-nilai Ketauhidan.

Sila keempat tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan adalah sebuah keharusan dijalankannya pemilu sebagai bentuk consensus demokrasi pancasila untuk memilih wakil-wakil rakyat menjadi representative yang mewakili aspirasi-aspirasi kemanusiaan sebagaimana dirinya juga adalah manusia yang bertugas menyusun kebijakan-kebijakan yang bijaksana dengan tujuan untuk menciptakan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia..keadilan yang dimaksud adalah keadilan sosial dan keadilan ekonomi dan masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat yang tidak barbarian tetapi menjadi masyarakat yang ESA.

Pancasila mengajarkan bahwa Politik adalah sebuah jalan untuk menciptakan kesalehan social, jika aktualisasi politik didominasi oleh politik yang pragmatis dan materialistis yaitu politik yang hanya mementingkan kepentingan individu dan golongan maka otomatis telah menjauhi pancasila dan UUD 1945 secara moril. Walaupun dalam berpolitik mematuhi aturan-aturan kuantitatif pemilu dengan bantuan instrumental pemilu tetapi politik mencari pemimpin yang ESA, Pemimpin yang Adil, Pemimpin yang manusiawi dan pemimpin yang bijaksana. Kriteria ini adalah sifat-sifat alamiah manusia bahwa manusia jahat sekalipun itu akan marah ketika miliknya di rampas atau dirinya didholimi. Ada sifat kebatinan manusia dalam yang Islam disebut dengan Iman yang berfungsi untuk mengeksekusi keinginan-keingan buruk manusia menjadi keinginan yang baik hanya saja ketika keinginan itu lebih dominan kepada keburukan maka politik akan menciptakan keburukan ditengah-tengah masyarakat dan tidak sedikit dari politisi di Indonesia yang lebih mendahulukan keinginan buruknya ketimbang kebaikan.

Formulasi politik yang dibangun dalam kerangka yang ESA sebagaimana ajaran Pancasila itulah yang saya sebut sebagai Trasendensia Politik yaitu sebuah jalan menuju masyarakat madani yakni suatu masyarakat yang lahir dari pengejawantahan nilai kemanusiaan yang beradab dari sorang pemimpin. Untuk itu Peran politik dalam kehidupan masyarakat sangat penting dan menentukan masa depan masyarakat. Dimana kehidupan politik yang dimiliki manusia sudah seharusnya mampu menghadapi kehidupan politik dari dimensi-dimensi terbaik yang dimikinya. Dengan alasan seperti itu kita bisa mengatakan bahwa politik itu mengajarkan mekanisme kehidupan manusia untuk mencapai keselamatan dunia-akhirat. Disamping itu politik mengajarkan manusia untuk saling bekerjasama untuk mempertahankan diri dari pengaruh infiltrasi, subversi maupun agresi dari luar sehingga dengan demikan kehidupan politik merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia yang berjalan diatas nilai-nilai kebenaran.

Walaupun Ada sebagian orang yang memandang bahwa politik itu kotor. tetapi anggapan seperti itu bukanlah substansi politik melainkan reaksi apatisme sosial yang timbul karena ada sebuah Fallacy dalam berpolitik yang sangat jauh jaraknya dari nilai-nilai kemanusiaan. Agar politik tidak keliru memandang masyarakat maka kita perlu menyamakan persepsi atas defenisi masyarakat. Suatu masyarakat terdiri atas kelompok-kelompok manusia yang saling terikat oleh system, adat istiadat, nilai atau ideology, hukum-hukum khas, hidup bersama dan mendiami sebuah wilayah dengan cara komunal-komunal dan bekerja sama untuk menciptakan tujuan bersama. Seperti itu pula sekawan rusa juga makan dan berpindah-pindah tempat bersama-sama. Tetapi baik pepohonan maupun sekawan rusa tidak dapat dikatakan masyarakat karena label masyarakat hanya di khususkan untuk manusia.

Kehidupan masyarakat bersifat kemasyarakatan artinya, secara fitrah ia bersifat kemasyarakatan disisi lain kebutuhan makan, minum, pendidikan, kesehatan dan segala aktivitas manusia tidak dapat berdiri sendiri tanpa di asosiasikan menjadi kebutuhan bersama karena tidak ada seorang individu yang akan hidup dengan sendiri-sendiri. Asimilasi kebutuhan merupakan kepastian hidup yang tidak bisa dihindari sehingga hal inilah yang mendorong manusia untuk berkelompok dan bekerjasama yang diikat oleh norma-norma yang dianut setiap masyarakat dan menjelma menjadi sebuah system social. Tentu saja system itu membutuhkan sebuah strategi atau jalan untuk merealisasikan atau menciptakan tatanan kehidupan yang di inginkan bersama.

Dalam Transendensia Politik, Masyarakat dipandang sebagai subjek system yang menganut paham ekonomi, social dan budaya yang benar. Bahwa partai-partai politik adalah sumbu kehidupan yang darinya terpancar sebuah nilai-nilai, perilaku social dan pola pikir yang berasaskan atas kebenaran yang hakiki. Pancasila memadukan kesadaran Tauhid dengan kemanusiaan dan keadilan dimana keadilan yang dimaksud adalah keadilan social dan keadilan spiritual, sebab mustahil keadilan ekonomi itu terwujud ketika keadilan spiritual dan keadilan sosial tidak terwujud.

Secara makro gagasan tentang Substansi politik yang sesungguhnya adalah memberikan kuasa bagi manusia untuk menciptakan sisitem sosial yang rasional antara akal dan perilaku politik senantiasa bersinergis. Pragmatisme politik telah menjatuhkan martabat kemanusiaan sehingga kita kadang terperangah melihat perilaku-perilaku politik yang sama sekali tidak mencerminkan esensi manusia yang sesungguhnya. Selain itu pula, politik tidak dapat di cabut dari kehidupan masyarakat karena tanpa politik, kehidupan tidak bisa berjalan normal. Tentu saja kita tidak bisa mengatakan bahwa dengan adanya politik kehidupan justeru malah bertambah kacau balau. Tetapi dengan adanya politik mengajak manusia untuk menjadi dewasa bukan manusia yang disebut dalam istilah psikoanalisis sebagai manusia Infintalisme yaitu manusia yang memiliki umur dewasa tetapi perilakunya seperti anak-anak kecil.

karena masyarakat membutuhkan seorang pemimpin yang berkuasa sehingga dapat mengatur kehidupan bermasyarakat secara tertib karena itu didirikanlah negara, dimana kekuasaan pada hakikatnya seperti pohon. Pohon kekuasaan mempunyai batang dan juga memiliki cabang-cabang. Batang yang tak mempunyai cabang-cabang seperti orang yang tampil di depan umum tanpa busana. Batangnya adalah solidaritas pendukung, sedangkan cabangnya adalah sifat-sifat terpuji . diakhir tulisan ini ada sebuah pesan Hadits Nabi yang patut kita renungkan kurang lebihynya seperti ini : Tahukah kalian orang-orang munafik dalam Sholatnya..?? yaitu oran-orang yang tidak sejalan Sholatnya dengan perbuatannya………!!! Semoga di tahun ini menciptakan Pemimpin yang benar.

Comments

comments

Check Also

Masih Ada Data Tak Sinkron, Rapat DPTHP-2 KPU Mamuju Ditunda

MAMUJU, KANDORANEWS.com – Komisi Pemilihan umum (KPU) Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar, menggelar rapat pleno …

Adventorial