Thursday , March 21 2019

Tak Puas dengan Harga TBS, Petani Minta Harga Sawit Setara di Sumatra.

MAMUJU, KANDORANEWS.com – Rapat penetapan indeks “K” dan Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi perkebunan se Provinsi Sulawesi Barat, telah ditetapkan.

Penetapan harga yang dipimpin Kabid Perkebunan Ir. H. Abd. Waris Bestari dihadiri sejumlah perwakilan kelompok tani, pihak perusahaan, instansi terkait, dan tim penetapan harga.

Dalam penetapan harga yang berlangsung di aula Dinas Pertanian Provinsi Sulbar, Kamis, (07/02), diperoleh hitungan rata-rata indeks “K” 78.00 persen.

Dari hasil perhitungan terjadi kenaikan harga dari bulan sebelumnya (Januari 2019) sebesar Rp.864.07. naik sebesar Rp. 145,04. Atau ditetapkan pada bulan Februari ini sebesar Rp. 1.009,11

Kenaikan harga dari bulan Januari 2019 sebesar Rp.864.07 ke bulan Februari sebesar Rp. 145,04, ternyata belum memuaskan petani.

Budianto (49), petani dari Surya Lestari 1 mengatakan, seharunya harga TBS pada bulan ini sama dengan harga yang ada di Sumatra.

“Maunya petani diatasnya itu, kan sumatera sekarang Rp.1.500. Sementara yang kita curah itukan sama produksinya CPO, itu saja perbedaannya disitu (harga),” ujar  Budianto ditemui usai penetapan harga TBS.

Olehnya itu dirinya berharap, pada Rapat penetapan indeks “K” dan TBS bulan Maret mendatanga, ada kenaikan harga yang cukup signifikan.

Ditempat yang sama, Ketua Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sulawesi, Muchtar Tanong berharap semoga dibulan-bulan berikutnya, harga TBS bisa tetap stabil.

“Harga yang ditetapkan bulan Februari ini adalah berdasar pada penjualan CPO bulan januari. Ini ada komuditas bebas artinya bahwa masuk dalam komuditi bebas, jadi kalau harga dunia naik, pasti harga akan ikut naik,” katanya.

Ditanya terkait mengapa harga TBS disetiap provinsi berbeda dengan provinsi lain, dirinya menjelaskan bahwa, itu tergantung dari biaya transportasi ke Belawan, Medan.

“Kadang-kadang kurang dipahami dengan baik bahwa harga itu berdasarkan terminal. jadi kalau misalnya untuk CPO, kitakan terminal Belawa, Medan, artinya bahwa tidak bisa kita pakai harga Belawa dipake disini, harus dikurangi dengan biaya tranportasi dari sini ke Belawan.” Jelas mantan ketua Gapki Sulawesi ini.

“Begitupun dengan provinsi lain. makanya antar provinsi itu pasti akan beda harganya, tergantung dari tranportasinya dari daerah asal ke Terimanal Res Minyak. dan kita berharap mudah-mudahan kedepan bisa lebih bagus lagi,” tutupnya. (zul/ra)

Check Also

Pemprov Sulbar Dorong Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Lebih Optimal

MAMUJU, KANDORANEWS.com – Provinsi Sulawesi Barat bertekad menjadikan aksi program pemberantasan korupsi terintegrasi lebih optimal …