Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Monday , November 19 2018

Setelah Batu Akik tebal,sekarang politik.

Oleh : Wahab Bala Balakang.

 

Beberapa kurung waktu terakhir baik skala nasional maupun di daerah khususnya di mamuju sulawesi barat.kita ketahui bersama atau mungkin satu diantaranya yang disibukkan dengan batu akik baik dari kalangan birokrasi ,pengusaha,nelayan,petani,tukang ojek,tukang becak,mahasiswa tak terkecuali dari kalangan politisi semuanya disibukkan dengan koleksi batu akik.ada yang sekedar ikut ikutan,ada yang beralih profesi jadi pengrajin dan pengusaha pernak pernik batu akik ada juga hanya sebagai pengoleksi saja rela meninggalkan tugas pokoknya demi mendapatkan batu untuk dijadikan mata pencarian tambahan dan koleksiannya ada juga yang rela menghabiskan uang banyak demi batu akik yang mempunyai daya tarik tersendiri.

di waktu yang sama dari kaum hawapun tak mau ketinggalan atas apa yang menjadi kesibukan para kaum adam pada umumnya dimana mereka juga sibuk untuk mencoba menarik perhatian halayak yaitu dengan cara mempertebal alisnya.Ada yang memang mempunyai ambisi yang sangat besar besar untuk menjadi sorotan perhatian orang banyak ada pula yang sekedar mengikuti gaya tren yang lagi membumi atau dengan kata lain ikut arus,mempertebal alis dengan berbagai macam cara dan model ,mereka menamakan alis anti badai ada juga yang menyebut alis beton karena ketebalannya.inilah bagi saya merupakan sebuah efek dari pengaruh budaya asing dimana orang indonesia selalu gembira ketika bisa mengadopsi perilaku-perilaku bangsa barat yang menurut paham mereka ketika tidak mengikuti kita akan disebut orang ketinggalan zaman  sehingga kita wajib mengikuti atas apa yang dicontohkan oleh para kaum Barat ini.

setelah dua pembahasan diatas yang sangat populer dikalangan masyarakat Sulawesi Barat ada hal baru yang sangatlah trend diperbincangkan baru baru ini yaitu engenai politik kaitannya dengan pilkada serentak yang akan digelar desember mendatang di empat kabupaten di sulawesi barat.Dimulai dari partai politik itu sendiri dimana mereka dari dini mempersiapkan diri dalam menyongsong pilkada yang akan datang para pengurus parpol mulai memulai pendaftaran calon kandidat yang akan mereka usung nanti untuk bertarung di bulan desember mereka telah melirik baik dari kader partai itu sendiri yang memiliki kafasitas sebagai kandidat,dari kalangan pengusha bahkan dari kalangan birokrasi dan pemuda mereka incar demi memenangkan pilkada langsung yang akan digelar desember mendatang.wacana politikpun semakin kian gencar dikalangan birokrasi,LSM,pemuda,mahasiswa,kaum perempuan dll tak terkecuali dikalangan politisi itu sendiri baik di rumah,tetangga disosial media ,kampus dikantor kantor maupun ditempat tempat perkumpulan banyak orang semuanya tak lupa membahas tentang politik pilkada mendatang,mereka saling menjagokan para kandidat yang dikabarkan atau yang telah menyatakan sikap untuk maju di pilkada tahun ini.hal inilah yang menkadi  dasar saya untk mencoba mengembangkan potensi saya dan menurut saya ini perlu saya luangkan waktu untuk memikirkannya karena pembahasan ini kata teman saya sangatlah ngeri,sebab politik ini bagi saya ada hal yang bisa merupakan sebuah alat untuk mencapai tujuan,tujuan yang dimaksud adalah untuk bagaimana kemudian para pemenang bisa mensejahterakan orang orang yang telah memberikan amanah bukan malah menyengsarakan rakyat membiarkan kelaparan bahlan membiarkan anak anak yang memilihnya untuk putus sekolah.tak jarang kita mendengar dan melihat dari masing masing pendukung kandidat saling melempar issu yang sifatnya tidak mendidik mala justru membuat hal yang kurang baik, caci mencaci terkhusus di kabupaten mamuju yang katanya malaqbi apakah dengan cara itu yang mereka katakan malaqbi? saya rasa tidak seperti yang penulis ketahui bahwa orang mamuju itu santun,ramah,dan bijaksana.jika tidak adalagi kesantunan dalam berpolitik dalam diri masing masing para kandidat dan loyalitas kandidat maka yakin saja daerah yang katanya malaqbi ini tidak akan maju.Saat kita disibukkan dengan wacana politik dimana kita dituntut untuk menebar kebaikan kandidat kita ,janji janji program yang menjadi jurus agar mendapat perhatian dan dukungan masyarakat kita lupa dengan kesenjangan sosial yang ada disekitar kita,seakan kita menutup mata dan telinga saat mendengar dan melihat saudara saudara kita yang terlantar,kelaparan.masih banyak anak yang setiap hari bahkan sampai malam yang  seharusnya mereka duduk di bamgku sekolah belajar saat malam hari tetapi karena kondisi ekonomi mereka yang membuatnya harus seperti itu disinilah seharusnya kita fokuskan perhatian bukan sibuk mengurus politik yang belum tentu bisa memberikan solusi bagi saudara saudara kita yg terlantar bagi anak anak kta yang putus sekolah  janganlah kita terlena  dengan perhelakan politik oleh para elit ,cobalah membuka mata,membuka telinga untuk mereka yang membutuhkan bantuan kita.agar mereka bisa tersenyum lebar dan mulai bermimpi untuk masa depan yang lebih baik.

 

 

 

 

 

Comments

comments

Check Also

Menuju Pemilu 2019; Partai dan Elektabilitas Caleg

Oleh : DR. H. Suhardi Duka (Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Barat) OPINI, KANDORANEWS.com – Pada …

Adventorial