Saturday , June 23 2018

SAINS DAN PENYIMPANGAN SOSIAL

Oleh : Syarifuddin Mandegar

(Pemerhati Sosial)

Kita tidak sedang mencari masalah dengan pengasingan intelektual dan masalah social, kita tidak menyingkir dari alur sejarah yang memaksakan peradaban tertentu untuk di ikuti sebab kita adalah musafir dan rekan senasib dalam kafilah umat manusia yang sedang mencari seuntai tradisi historis yang agung namun terlupakan.

Dunia tempat kita tinggal dari dulu hingga kini, terus menerus mengalami kemajuan-kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan ini mendorong terjadinya kemajuan bertahap dibidang sains yang disebabkan oleh usaha manusia untuk mempelajari dan memenuhi segala kebutuhannya dan pada gilirannya kemajuan sains tersebut mendorong terjadinya revolusi di dunia pemikiran umat manusia. Dunia sains dan industri telah menggantikan berbagai pekerjaan yang dulunya dikerjakan dengan susah payah oleh tenaga manusia menjadi pekerjaan yang dikerjakan oleh mesin-mesin industri. Situasi ini menyebabkan manusia lebih bebas untuk menikmati segala kemewahan hidup dengan mudah dan memiliki banyak waktu luang. Demikian pesatnya kemajuan ini, hingga seandainya perkembangan dimasa lalu itu membutuhkan waktu dalam hitungan siang dan malam, maka di Zaman modern ini hanya membutuhkan waktu dalam hitungan menit atau bahkan detik. Inilah kemajuan zaman yang patut diapresiasi jika kita ingin menjadi manusia-manusia yang hidup dibawah kolong industrialisasi dan memaksa diri kita untuk hidup berkompetisi layaknya partikel-partikel yang tak pernah berhenti berkembang dan mewujud antara satu dimensi ke dimensi lainnya.

Gerak alam dengan segala macam kemajuan-kemajuan yang diciptakan oleh manusia bukan berarti hanya memotret sisi lahiriah (fisik) saja untuk dipertontonkan lewat pasar globalisasi yang menciptakan arena pacu agar manusia belomba-lomba untuk menjadi kompetitor industri dan sains tetapi kekayaan industri tersebut adalah sarana untuk menemukan suatu prinsip kehidupan yang tidak terjangkau oleh moral industrialisasi sehingga manusia mampu mengatasi pasar globalisasi itu tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Berdialektika dengan zaman adalah sebuah gerakan bukan tanpa tujuan akhir dimana baik buruknya sangat dipengaruhi oleh peranan social yang kita ciptakan bersama.

Jean Baudrillard, seorang tokoh Hiperrealitas, memiliki pandangan bahwa teknologi informasi yang semakin mutakhir tidak hanya memperpanjang fungsi organ pada manusia tetapi lebih hebat lagi, mampu menghasilkan duplikasi dari manusia, mampu membuat dunia fantasi atau fiksi ilmiah menjadi nyata.

Tidak hanya itu, manusia bahkan mampu mereproduksi masa lalu atau melipat dunia sehingga tidak lebih dari sebuah layar kaca, usb atau memory bank. Ini pertanda peradaban modern yang sedang kita jalani saat ini telah membawa dampak bagi umat manusia yang secara tidak sadar telah membuat simulasi social yakni suatu proses dimana representasi (gambaran) atas suatu objek justru menggantikan objek itu sendiri dimana representasi itu menjadi hal yang urgen dibandingkan dengan objek tersebut. Analoginya adalah bila suatu peta merepresentasikan atau mengambarkan suatu wilayah maka dalam simulasi justeru peta-lah yang mendahului wilayah artinya dalam ruang simulasi social ini perbedaan antara benar dan palsu menjadi tipis seolah-olah manusia hidup dalam dunia khayal yang nyata.

Pada konteks yang lain, manusia tengah merepleksikan suatu deferensiasi yakni proses membangun indentitas individu-individu berdasarkan perbedaan, produk dan gaya hidup yang mendorong manusia untuk membuat proses peremajaan (pembaharuan) kemudian dijadikan ideologi oleh para elit social-kultural dalam bentuk komoditi misalnya HP Smart seri terbaru, Salon Kecantikan Shoping Malls atau bisa juga kita sebut bahwa dalam system komoditi total, manusia tidak lagi bertindak sebagai subjek yang mengontrol objek namun dikontrol oleh objek-objek yang menyebabkan manusia kehilangan kesadaran dan memiliki gairah konsumsi yang tinggi. Akibatnya, terbentuklah budaya konsumerisme dimana produk-produk komoditi tersebut menjadi satu medium untuk membentuk personalitas gaya, citra diri, gaya hidup dan cara deferensiasi status social telah memasang jarak antara kaum elit social-kultural dengan masayarakat akar rumput sehingga gejala anak-anak jalanan, para kaum miskin, tidak lagi menjadi perhatian serius tetapi justeru malah dianggap masalah individu yang tidak ada hubungannya dengan harga komoditi yang mereka pakai. Celakanya, ditengah perburuan komiditi sains yang makin tinggi dan terus memompa kebutuhan ekonomi dimana kenyataan ini makin mempersempit ruang bagi masyarakat bawah untuk dapat keluar dari garis kemiskinan karena lahan-lahan yang ada telah dirampas oleh komuditor-komuditor untuk menciptakan komoditi baru sehingga masyarakat harus membayar mahal lahan mereka sendiri untuk menikmati komoditi itu. Hal ini diperparah lagi oleh tatanan politik dan social yang telah memutuskan umat manusia dari filsafat kehidupannya yang mendasar sehingga kehidupan menjadi hampa dari pemikiran-pemikran altruistik tentang prinsip tolong-menolong atau saling membantu telah berubah menjadi perburuan tiada henti untuk kebutuhan perut, hiudp menjadi individualistic bahkan banyak orang yang justeru menjadi korban jenis kekerasan yang disebut oleh penyair “Kebiadaban Manusia Terhadap Manusia”

Umat manusia dewasa ini, masih berada pada tahapan Infintalisme (masa kanak-kanak), sementara perintah Sang Pencipta kita harus mencapai tingkat kedewasaan intelektual apabila ingin mengoptimalkan potensi fitrah yang tersembunyi dan tak ternilai di hati kita dan seketika itu pula, kita menginvestasikan “modal spiritual” kita pada jalan yang menghasilkan “deviden” kebahagiaan hati dan peningkatan spiritual. Di era ini, umat manusia masih belum matang, bersifat ke kanak-kanakan dengan menuruti suasana hati dan hawa nafsunya daripada memilih untuk mematuhi petunjuk-petunjuk akal sehat yang matang.

Banyak orang yang gagal menyadari prasangka dan takhayulnya sebagai berhala-berhala, ketimbang memujanya sebagaimana orang-orang progresif yang memuja sains. Seribu pengalaman yang tidak menyenangkan dan petualangan sesat yang terus menerus dialami seharusnya menyadarkan manusia bahwa satu-satunya alternative untuk menghapus segala pengalaman pahit itu adalah “Jalan Kebenaran dan Petunjuk Ilahi”. Bukankah hari ini kita terlalu membual soal Idealisme. Tapi pada saat yang sama kita mengikuti dan mengkopi segala perilaku dan adat-istiadat , institusi dan formula bangsa lain yang telah mencipyakan jurang pemisah antara kaum elit social dengan mustad’afin . Imitasi atau peniruan semacam ini akan mengikat tali perbudakan dilehar penirunya. Inisiatif sendiri adalah sumber Independensi diri sedangkan Imitasi adalah parasit yang menghambat Independensi manusia karena kesimpang siuran dalam pemikiran dan etika kita disebabkan karena kebodohan akibat imitasi. kekacauan social yang timbul disebabkan karena kebodohan manusia itu sendiri yang tidak pernah menyadari bahwa budaya dan peradaban adalah dua hal yang memang tidak dapat kita pisahkan, tetapi budaya harus diletakkan pada prinsip defenitif yang sesungguhnya padaruang berpikir yang rasional sehingga kita tidak salah kaprah dan terjebak menjadi replikator budaya bangsa lain. Budaya harus dipahami sebagai bentuk peleburan antara Intelektual dan Spritual yang menjadi falsafah untuk menciptakan  peradaban yang bermartabat yakni peradaban yang tidak menodai kemanusiaan. Prestasi positif dari masa lalu kita yang agung sebagai warisan para Nabi , Imam dan Wali Allah adalah landasan bangunan raksasa dunia modern, namun kita telah gagal!. Kita gagal untuk menjadi pioneer dan melestarikan keindahan dan martabatnya disebabkan reputasi buruk kita.  Apabila kita mau jujur dan belajar mengevaluasi kesuksesan kita dimasa lalu dengan tepat maka kita akan memerdekakan hati kita dihadapan tirani dan meraih pemikiran murni manusia bebas sejati. Sebaliknya jika tidak, maka kita akan seperti pengemis yang menengadahkan topinya di depan pintu seorang kaya dan menerima hadiah-hadiah tatkala kita justeru harus melemparkannya kembali ke wajah orang kaya itu.

Merendahkan kreatifitas peradaban demi imitasi palsu semata, justeru menjatuhkan seluruh masyarakat dalam kehidupan hina belaka. Tidak sedikit dari manusia yang bersaing mengambil keuntungan dari kemajuan teknologi hingga mengorbankan umat manusia lainnya. Untuk itu diakhir tulisan ini saya mengutip sebuah ungkapan yang mungkin baik untuk jadikan pegangan         “ Tugas kita sebagai pemeluk agama bukanlah mempertahankan betapa benarnya agama kita. Tugas kita sama seperti Rasulullah saw ialah menyebarkan kasih sayang diseluruh semesta alam menjadi rahmatan lil ‘alamin (Dr. Jalaluddin Rahmat)”

Comments

comments

Check Also

Komunitas PETA dan Jpeg Mateng Galang Dana Untuk Fakir Miskin

MATENG, KANDORANEWS.com – Memasuki hari ke-3 bulan suci Ramadhan tahun, ini beberapa komunitas dikabupaten Mamuju …

Adventorial