Wednesday , December 19 2018
Foto : Aminuddin, seorang petani kopi saat berada di kebunnya di Desa Baroko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (20/9/2018). Untuk menjaga produktivitas kopi, Aminuddin menggunakan pupuk organik dari bijih kopi. Adapun harga kopi di pasaran cukup menggembirakan bagi petani kopi.

Petani Enrekang Jaga Produktivitas Kopi dengan Pupuk Alami

ENREKANG, KANDORANEWS.com – Beberapa tahun lalu, harga kopi sempat anjlok, sehingga petani kopi di Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang beralih ke tanaman jangka pendek. Namun, kini harga kopi di pasaran pun terbilang mengembirakan bagi petani, yakni Rp 20 ribu per liter. Hal ini yang membuat petani kopi kembali bangkit.

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Di Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, masyarakat masih menggantungkan hidup dari tanaman kopi. Meski begitu, adapula petani yang tetap beralih ke tanaman holtikultura.

Hal ini yang mendorong Aminuddin, salah seorang petani kopi asal Desa Baroko tetap menekuni usahanya. Meski tidak sedikit petani di desanya yang beralih menjadi petani tanaman holtikultura, namun warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ini tetap bertahan menekuni usahanya.

Ihwal pemupukan, Aminuddin memanfaatkan limbah biji kopi sebagai pupuk organik. Seusai dipisahkan dari bijinya, kulit kopi ia tempatkan di area belakang rumahnya. Setelah proses pembusukan selama 4 sampai 6 bulan, kulit kopi siap digunakan sebagai pupuk alami.

“Dengan menggunakan pupuk biji kopi, hasil panen jauh lebih memuaskan dibandingkan menggunakan pupuk buatan,” katanya saat diwawancarai di kebunnya di Desa Baroko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (20/9/2018).

Sejak dulu, rerata petani di Desa Baroko, kata Aminuddin, menggunakan pupuk dari kulit kopi. “Ada penyuluh yang melakukan pendampingan tentang penggunaan pupuk kulit kopi. Kita lihat sekarang ini daunnya subur dan buahnya lebat. Sekarang menghasilkan kopi yang jauh lebih banyak,” katanya.

Aminuddin mengatakan, ia memiliki 2.500 pohon kopi. Luas kebun kopi milik Aminuddin sekitar 1 ¾ hektar. Setelah dipisahkan dari bijinya, kulit kopi ia diamkan di bawah terik matahari selama 6 bulan. Ia tidak menggunakan cairan kimia untuk mempercepat proses pembusukan biji kopi. Setelah kulit kopi sudah hancur, barulah digunakan sebagai pupuk.

“Untuk sementara ini, kita belum memanfaakan cairan kimia, karena murni kita harapkan pupuk organik,” ujar warga LDII ini.

Dalam setahun, tanaman holtikultura bisa dipanen sebanyak tiga kali. Adapun kopi, masa panen rayanya sekali dalam setahun yaitu di Bulan Mei hingga Juli. “Di Bulan Mei, kita sudah memasuki masa panen raya. Masa panen antara 3-4 bulan, tergantung kondisi cuaca,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Baroko, Muslimin, mengatakan, sejak dulu petani di Baroko menggunakan kulit kopi sebagai pupuk. Ditambah lagi, petani kopi di Baroko pun cukup profesional dalam mengelola tanaman kopi. Kulit kopi akan mengalami pembusukan secara alami. Dengan adanya teknologi tepat guna, ia berharap, proses pembuatan pupuk kompos dari biji kopi lebih cepat.

Harga kopi di pasaran cukup menggembirakan bagi petani. Sebab itu, petani kembali antusias menanam kopi. “Tanaman kopi paling banyak tumbuh di Desa Benteng Alla Utara dan Desa Patongloan,” katanya.

Belum lama ini pihaknya memperoleh bantuan mesin pencacah kompos. “Tiga kelompok tani akan mendapatkan mesin tersebut. Kedepan, limbah kulit kopi kita masukkan di mesin agar lebih cepat proses pembusukannya. Mudah-mudahan bisa mempercepat proses pembuatan pupuk kompos,” ujar Muslimin. (*/Ra)

Check Also

Evaluasi Ekonomi 2018 dan Outlook 2019: Ekonom Mengapreasiasi Keberhasilan Pemerintah Kendalikan Inflasi

MAKASSAR, KANDORANEWS.com – Perkembangan inflasi secara nasional dalam empat tahun terakhir menunjukkan kecenderungan yang semakin …