Saturday , August 18 2018

Nasionalisme yang dipersimpangan, dari Tanmalaka hingga Presiden yang terlupakan

KandoraNews.com
Post: Riadi Syam
Penulis :Santa (Aktivis Hipermaju)
Mengawali tulisan ini, ijinkan penulis mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesi yang ke 70 tahun. Ucapan ini barang tentu bukan tanpa makna dan pesan yang kering, akan tetapi punya nilai dan makna tersendiri bagi setiap generasi dalam mengenang peristiwa heroik, peristiwa monumental, dikatakan demikian sebab ialah menjadi kulminasi etape-etape perjuangan merebut kemerdekaan bangsa indonesia.
Dewasa ini rasa berbicara nasionalisme menjadi hal yang tabu disaat kita menyaksikan gelombang sejarah bangsa yang dilakoni sebahagian besar yang terlibat aktif dalam mengelolah negeri ini, dimana praktik-praktik yang tidak mencerminkan prinsip nasionalisme acapkali terjadi sepanjang waktu seperti issu-issu korupsi, kriminal, penggusuran dimana-mana, konflik-konflik sesama warga bangsa menjadi sesuatu yang mengafirmasi asumsi diatas. Nasionalisme adalah perasaan sepenanggungan, senasib, dan semangat yang satu untuk terbebas dari suatu ancaman. Nasionalisme juga dipahami adalah sebagai perasaan akan cinta kepada tana air. Nasionalisme dipersimpangan jalan adalah Hipotesis awal bagi penulis atas praktik-praktik dalam berbangsa dewasa ini yang bias atau keluar dari spirit nasionalisme. Menurut penulis nasionalisme harusnya adalah kesesuaian antara perilaku berbangsa guna menuju integrasi bangsa serta selalu mendorong tercapainya masyarakat yang aman, nyaman, damai dan sejahtera, dan bukan justru melawan semangat tersebut.
Pemahaman Nasionalisme memang sangat bergantung pada individu dalam mengangkat dan memperjuangan bangsanya. itulah hemat penulis bahwa tanmalaka adalah salah satu tokoh terpenting bagi sejarah perjalanan bangsa indonesia sebab beliau jugalah yang pertama kali menurut sejarah menulis suatu buku yang diberi judul ”Menuju Indonesia Merdeka” pada tahun 1925. bahkan tanmalaka jugalah salah satu tokoh yang kerap menjadi inspirator Bung karno dan kawan-kawan. namun dewasa ini meski beliau begitu berjasa dan tahun 1963 bungkarno memberi gelar sebagai pahlawan nasional namanya tidak begitu banyak dipublikasikan oleh pemerintah dan hilang dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah hingga perguruang tinggi. Dalam tulisan ini penulis juga hendak memberi penghormatan kepada presiden kita yang terlupakan ialah bapak Syarifuddin Prawiranegara sebagai presiden Pemerintahan Darurat Indonesia Sementara pada tahun 1948, dimana Bungkarno dan Hatta sedang dalam tahanan belanda dan terjadi kevakuman kekuasaan atau pemerintahan. akan tetapi Prawira negaralah menurut sejarah yang menyelamatkan bangsa atau pemerintahan kala itu. Realitas yang terjadi dewasa ini presiden tersebut namanya tidak begitu banyak dipublikasi oleh pemerintah dan bahkan dalam pelajaran sejarah disekolah-sekolah hingga perguruan tinggi sangat tidak begitu dipelajari.
Atas peristiwa dan ketokohan orang-orang yang diatas, tanpa mengerdilkan peran tokoh yang lain penulis tertarik untuk menulis dengan harapan kita dapat mengingat dan mempelajari lebih dalam ketokohan beliau dalam pentas sejarah indonesia di momentum hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke 70 tahun.Menurut penulis bahwa ada beberapa hal yang menjadi tantangan bagi bangsa indonesia dalam usia yang ke 70 tahun ini, pertama: indonesia tentu dalam posisi yang seharusnya survive dalam kehidupan ekonomi,politik,budaya namun faktanya ada saja ketimpangan disana-sini yang kedua: jumlah penduduk bangsa indonesia yang diatas 240 juta lebih adalah bisa menjadi ancaman akan meningkatnya masalah baru jika tidak disikapi dengan serius, yang ketiga praktik-praktik korupsi,narkoba,semakin mengancam keutuhan bangsa sebab ia bekerja bagaikan virus yang amat sulit untuk diidentifikasi pelakunya.
Kesimpulan dari penulis bahwa Meminjam kata-kata Bungkarno jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dalam konteks itulah spirit penulis untuk menulis apa yang menjadi pikiran-pikiran penulis diusia republik ini yang ke 70 tahun. Semoga kita jadi bangsa yang semakin kuat,toleran, adil dan sejahtera Amin.
Wallahu A’lam Bissawab.

Comments

comments

Check Also

Gerakan Mahasiswa Daerah Diluar Daerah.

Oleh : Hairil Amri Ketua Umum IKAMA Sulawesi Barat Yogyakarta (2017-2019) OPINI, kandoranews.com – Sebaiknya kita tidak …

Adventorial