Tuesday , August 21 2018

Mengenang jejak Imam Lapeo

KandoraNews.com

KH.Muh thohiir atau yg lebih dikenal dg Imam lapeo…adalah seorang
wali masyhur di Tanah Mandar Sulawesi Barat dan Selatan…..beliau
Menguasai Banyak cabang ilmu Islam..seperti
Fiqh.tasawwuf…hadits.dll….dibawah bimbingan para ulama khususnya
dari Saadah ALAWIYYIN….atau Ahlul bait Rasulullah SAW….yang Di
mandar lbh dikenal di istilah “Tuan Sayyid”..yg diserap dl bahasa
mandar menjadi Puang Sayyid….Syek Fath beliau…yg utama adalah Al
Habib As Sayyid Alwy bin Abdillah bin Sahl Jamalullail…

Dari beliaulah Kyai Haji Muhammad Thohir mengambil Ilmu dan Sanad Ilmu
Tasawwuf….Keturunan Habib Alwy Bin Sahl Jamalullail..banyak
ditemukan di Sulawesi Barat hingga kini…Bahkan Habib Hasan putra
dari Habib Alwy Bin Sahl…menjadi Mufti di daerah Sulawesi saat
itu…stlh Menuntut Ilmu di Makkah Almukarromah selama 30
tahun…..berikut foto Kyai Haji Muhammad Thohir Dan Al Habib Hasan
bin Sahl mufti Sulawesi….putra dari Al Allamah Al Habib Alwy bin
Abdillah bin Sahl jamalullail……

Hubungan Guru dengan Murid

Habib Alwy  merupakan guru dari Imam Lapeo. Imam lapeo yang nama
aslinya Junaihin Namli, diganti namanya dengan sebutan Muhammad Thahir
ketika menjadi murid beliau. Pernah suatu ketika Habib Alwy bin Sahil
mengajak beberapa orang termasuk Imam Lapeo untuk “berhalwat”
(mengasingkan diri dari khalayak ramai) di suatu tempat, dan dari
sekian banyak orang itu, Imam Lapeo satu-satunya yang dapat bertahan
menerima cobaan-cobaan yang muncul pada saat berhalwat dan Habib Alwy
bin Sahil berkata kepadanya :
“Kamu telah lulus, segala ilmu dzohir dan hakikat ada padamu, dan kita
bersaudara dunia akhirat”.

Ungkapan kedua tokoh agama ini tidak hanya berlaku pada keduanya tapi
sampai kepada anak cucu dan keturunannya masih tetap terjalin
persaudaraan dan silaturrrahmi dengan baik.

Pernah juga suatu ketika rombongan Habib Alwi beserta
murid-muridnya dari Pambusuang datang ke kampong Laliko untuk
menyebarkan agama islam sempat mendapat kendala dari warga setempat
dengan menembaki rombongan dengan senapan. Melihat keadaan tersebut,
Imam Lapeo pergi menghadapi mereka, seraya berkata :
“Kalian telah melakukan perbuatan yang sia-sia dan konyol serta
pengecut, menembaki habib yang tak bersenjata, itu bukan perbuatan
laki-laki sejati, jika ada yang berani hadapilah aku.”

Lalu tampaklah seorang dari mereka yang berani menantang beliau,
kemudian beliau berkata :
“ Silahkan tusuk saya dengan tombakmu itu sebanyak tujuh kali, selesai
itu giliran saya menusukmu dengan tombak sebanyak tujuh kali pula.”

Ternyata orang itu tidak kuasa melukai (karena bantuan Allah SWT)
walau sudah berusaha sekuat tenaga hingga putus asa, tibalah giliran
Imam Lapeo untuk menusuk sebanyak tujuh kali pula. Beliau memegang
tombak itu dengan gagah berani, namun dalam hatinya tiada terbetik
kecuali kematian dan tiada lagi kehidupan apabila benar-benar beliau
berkehendak menusuknya. Di saat beliau menatap orang itu, beliau
menampakkan rasa kasih sayang dan menjatuhkan tombak itu dan
memaafkannya. Dengan kekuasaan Allah, hati orang itu digerakkan
bersama kelompoknya menyatakan tunduk, patuh dan menjadi pengikutnya.

Melihat hal itu, Habib Alwi meminta supaya Imam lapeo lah yang membina
dan mengasuh masyarakat itu, mengeluarkan dari jurang kebodohan dan
dari keterbelakangan kepada pelaksanaan syariat islam yang
sebenar-benarnya. Habib Alwi memberikan isyarat bahwa tempat ini
menjadi tempat utama bagi beliau yang akan datang, Habib lalu merestui
dan mendo’akan.

K.H. Muhammad Thahir adalah ulama kharismatik di tanah mandar, lahir
pada tahun 1838 M. Beliau seorang imam di desa lapeo yang sederhana
dan menyebarkan agama islam sampai ketanah bugis.

Keluarga Imam Lapeo berakar dari sebuah kampung tua yang sejak dulu
menjadi tanah kelahiran tokoh-tokoh di Tana Mandar. Kampung itu
bernama Pambusuang. Seorang tokoh nasional yang pernah lahir di
kampung ini adalah Almarhum Baharuddin Lopa (mantan Jaksa Agung RI).
Pambusuang saat ini sudah menjadi kota kecamatan Pambusuang dalam
wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Propinsi Sulawesi Barat.

Ayahanda Imam Lapeo bernama H.Muhammad bin Abd.Karim bin Aba Talha.
Ayahanda Imam Lapeo mempunyai dua saudara yakni yang dikenal dengan
panggilan Kanne Paung dan Kanne Kina. Kanne Paung tidak memiliki
keturunan sedangkan Kanne Kina kemudian mempunyai anak cucu yang
berkembang di Pambusuang sebagai sepupu-sepupu Imam Lapeo. Sedangkan
ibunda Imam Lapeo bernama Siti Rajiah berasal dari keturunan hadat
Tenggelang, sebuah wilayah yang saat ini berada di Kecamatan
Campalagian Kab. Polman. Sebagaimana dalam silsilah keturunan yang
paternalistik, silsilah keturunan Ibu kurang dikembangkan sehingga
sampai saat ini belum ada yang mencoba menggambarkan sepupu-sepupu
Imam lapeo dari garis Ibu.

Dalam kehidupannya Imam Lapeo telah menikah sebanyak enam kali. Tiga
dari perkawinan beliau tidak mendapatkan anak keturunan.

Imam Lapeo sukses dalam dakwahnya sehingga mereka bertaubat, dan
inilah yang menjadi salah satu alasan nama masjidnya Masjid Jami’
At-Taubah Lapeo, kemudian dialihkan namanya masjid Nuruttaubah Lapeo.

Dalam menyebarkan agama Islam berbagai cara yang ditempuh oleh imam
lapoe, dimana ia menarik perhatian masyarakat atau orang disekitarnya
dalam mengajarkan agama, secara bartahap beliau mengikuti
kebudayaan-kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut.

Beliau mengajak masyarakat sekitar membangun mesjid tetapi dalam
kenyataannya tak semudah dibayangkan. Imam Lapeo harus berhadapan
dengan maraknya perjudian, ramainya warga Mandar yang masih
mabuk-mabukkan dengan minuman kebanggaannya adalah Manyang Pai’.
(Tuak).

Masyarakat sendiri secara bertahap menghilangkan kebiasaan yang mereka
lakukan. Bukan hanya dengan mengajak masyarakat di sekitarnya
membangun masjid Imam Lapeo juga sering bertamu di rumah masyarakat
jika sedang berjalan-jalan dan juga terkadang masyarakat mendatangi
rumah beliau untuk meminta doa dan petunjuk jika ada masalah yang
mereka hadapi atau mempunyai keiinginan. Beliau juga terkenal dengan
sikap dermawannya sampai-sampai beliau berhutang jika ada masyarakat
yang memerlukan bantuan. Hal ini dituturkan oleh penulis sejarah Imam
Al-Lapeo.

Dalam buku yang memuat tentang perjalanan hidup Imam Lapeo yang
ditulis oleh cucu Imam Lapeo sendiri Syarifuddin Muhsin, ada 74
karamah (kelebihan) dalam kisah hidup Imam Lapeo. Sebagian di
antaranya, menyelamatkan orang tenggelam, melerai perkelahian di
Parabaya, menghentikan penyiksaan KNIL, jadi perlindungan Arajang
Balanipa, berbicara dengan orang mati, menangkap ikan di laut tanpa
kail, memendekkan kayu, menghardik jenazah, mengatasi pendoti-doti
(guna-guna), sholat jum’at pada tiga tempat pada waktu bersamaan,
menebang kayu dengan tangisan bayi.

Peran Imam Lapeo, tidak terlepas dengan karamah kesufian yang ada pada
dirinya. Misalnya, tangannya kebal terhadap api. Diceritakan, selama
belajar di hadapan Sayyid Alwi bin Sahil Jamalulail, Imam Lapeo juga
bertindak sebagai penuntun unta terhadap gurunya dalam berbagai
perjalanan.

Saat sang guru Sayyid Alwi bin Sahil Jamalulail bersama muridnya Imam
Lapeo melakukan perjalanan antara Mekkah dan Madinah, karena keamanan
di jalan kurang terjamin, mereka singgah istirahat dan berkemah di
jalanan. Ketika itu, sang gurunya mengetahui Imam Lapeo mengisap
rokok. Sang Guru langsung mengambil rokok tersebut dari tangannya, dan
rokok yang terbakar itu ditekankan ke telapak tangan muridnya. Dalam
keadaan demikian, Imam Lapeo tidak merintih dan tidak merasakan
kesakitan, malah hal itu dibiarkannya sampai semuanya selesai.

Sementara, pengalaman pertama Imam Lapeo ketika baru saja berada di
Mandar, adalah penduduk setempat mencoba mengujinya, melakukan semacam
permainan berbahaya. Waktu itu, Imam Lapeo sedang khutbah di atas
mimbar pada hari Jumat, dan bersamaan itu pula muncul suatu gumpalan
api yang sangat tajam cahayanya.

Gumpalan api yang pada mulanya laksana sebutir telur yang sinarnya
sangat tajam itu, tiba-tiba menjadi besar dan bergerak dari depan
dengan kencangnya menuju ke hadapan Imam Lapeo. Pada saat menentukan,
dan sejengkal lagi gumpalan api itu mengenai mukanya, Imam Lapeo hanya
bergerak dengan isyarat matanya. Akhirnya gumpalan api itu menyingkir
dari hadapannya dan mengenai tembok di belakang mimbar. Tembok masjid
tersebut hancur rata dengan tanah.

Kisah lain adalah, Imam Lapeo menundukkan ular. Suatu ketika, Imam
Lapeo diundang mengahadiri pesta walimah di Tapalang, daerah Mamuju.
Ketika resepsi makan dimulai, tiba-tiba muncul ular-ular di piringnya
yang ingin digunakannya untuk makan. Ular-ular tersebut, tiada lain
dari orang tertentu yang konon kabarnya ingin mempermalukan Imam Lapeo
di tengah pesta.

Karomah yang lain Imam Lapeo waktu itu sekitar tahun 60an masjid lapeo
sedang dibangun disamping makam lapeo namun terhambat masalah dana
akhirnya tidak lama kemudian datang beberapa unit truck dari makassar
membawa semen pasir dan beberapa bahan bangunan yang lain, warga
sekitar heran karena tidak ada satupun dari mereka yang memesan
apalagi dana tidak ada. Mereka memutuskan untuk membicarakannya di
rumah salah satu warga di sana,ketika ditanyakan tentang siapa orang
misterius yang memesan bahan bangunan ini,si supir mengatakan bahwa
yang memesan adalah seorang kakek berpakaian serba putih bersorban dan
kebetulan si supir melihat foto imam lapeo yang ada di lama rumah
warga tersebut,dan mengatakan bahwa orang itulah yang memesan bahan
bangunan.

Imam Lapeo sebagai ulama sufi yang tawadhu, hanya menyaksikan
ular-ular itu meliuk-liukkan badannya, sampai akhirnya jumlah ular
bertambah banyak dan meloncat-loncat. Walhasil, hanya dengan mengancam
ular-ular itu dengan memberi isyarat, maka dengan seketika ular-ular
tadi hilang dengan sendirinya.

Selain itu, sepeninggalan beliau, hingga saat ini, kuburannya banyak
didatangi orang. Ada suatu kaedah dalam kewalian dan kesufian yang
menyatakan seorang waliyullah apabila nampak karamah (keluarbiasaan)
pada waktu hidupnya pada dirinya. Maka akan nampak pula keramat pada
waktu sesudah matinya.

Seorang sufi, apabila dikunjungi orang pada waktu hidupnya, maka
dikunjungi pula banyak orang sesudahnya matinya/makamnya. Hal inilah
yang terjadi pada diri Imam Lapeo, dimana kuburannya dikunjungi oleh
banyak orang, terutama pada hari-hari tertentu, misalnya pada
saat-saat sebelum pemberangkatan dan setelah kembali dari tanah suci
Mekkah.

Walaupun kiprah dan perjuangan Imam Lapeo sering direduksi dan
dibumbui dengan hal-hal yang berbau supranatural seperti cerita
tentang kemampuannya berada di tiga tempat sekaligus; menaklukkan para
tukang Doti, namun intelektual sekelas Emha Ainun Najib meyakini
kisah-kisah Imam Lapeo.

Ada banyak nelayan Mandar yang percaya, bila terhadang badai di tengah
laut, mengingat sang panrita untuk kemudian memanggil namanya adalah
salah satu cara menaklukkan badai. Ya, itulah salah satu bentuk betapa
orang Mandar menganggap Imam Lapeo sebagai ulama berkaramah. Banyak
rumah di Mandar memasang fotonya di dinding rumah.

K. H. Muhammad Thahir adalah ulama yang tidak mendakwah dalam lisan
saja. Dia juga ulama yang konkrit peranannya. Di tengah masa penuh
kesulitan (perang, sarana transportasi yang tidak memadai, penduduk
pribumi yang belum mengamalkan Islam). K. H. Muhammad Thahir bermukim
di banyak kampung di pesisir Sulawesi Barat, hingga ke Bambang Loka.
Menurut hasil pencatatan anak cucunya, setidaknya ada 17 mesjid yang
tersebar di pesisir Sulbar yang pembangunannya diprakarsai oleh K. H.
Muhammad Thahir. Sepertinya belum ada ulama, tokoh, dan pejabat di
Sulbar yang bisa menyamai rekor Imam Lapeo.

Menurut beliau sendiri dalam pengakuannnya guru-gurunya adalah:

1. Ayahnya sendiri, Muhammad (Penghafal Al-Qur’an)

2. Kakenya, Abdul Karim/Sapparaja/Kanne’ Buta (penghafal Al-Qur;an)

3. Guru Langgo’ di Pambusuang.

4. Guru-guru di pulau Salemo (Pangkep)

5. Guru-guru di Pare-Pare antara lain Al Yafi’I (ayahanda Prof. H. M.
Ali Al Yafi’)

6. Guru-guru di pulau Madura (antara lain K.H. Kholil Bangkalan) dan pulau Jawa.

7. Guru-guru di Singapura, Malaka dsb.

8. Guru-guru di Padang (Sumatra Barat)

9. Habib Sayyid H.M. Alwi bin Sahal Jamalul Lail

10. Syekh Hasan Al Yamani

11. Dan lain-lain.

Imam Lapeo wafat pada usia 114 tahun, tanggal 17 Juni 1952 di Lapeo
(sekarang wilayah Kec. Campalagian, Kab. Polman). Dimakamkan di
halaman Masjid Nur Al-Taubah di Lapeo yang dibangunnya. (Di daerah
Mandar lebih dikenal  dengan sebutan Masigi Lapeo ‘Masjid Lapeo’ yang
terkenal dengan menaranya yang tinggi). Makamnya, sampai saat sekarang
ini banyak dikunjungi/diziarahi oleh masyarakat yang datang dari
berbagai daerah. Alfatiha kita kirimkan kepada beliau.

(AD)

Comments

comments

Check Also

Jambore Pertama Pandu Hidayatullah Sulbar, Bupati Mamuju Janjikan 500 Juta Tahun 2019

MAMUJU, KANDORANEWS.com – Pembukaan Jambore pertama Pandu Hidayatullah Sulawesi Barat yang diikuti sekitar 100 lebih peserta …

Adventorial