Wednesday , December 19 2018

Laporan Study Banding Pengusaha Penggiling Beras

Oleh : DR. H. Suhardi Duka

OPINI, kandoranews.com – PT. RUTAN indonesia tanggal 12-13 februari 2018 mengundang pengusaha penggiling beras Sulselbar untuk berkunjung ke bekasi dan jakarta untuk melihat dan berdialog dengan pengusaha penggiling beras di bekasi dan badan usaha penyalur dan distribusi beras jakarta, termasuk ke pasar induk Cipinang dan Foot Station salah satu BUMD DKI. Diantara 10 peserta yang kebanyakan dari kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan, saya salah satunya dari Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat. Saya gunakan kesempatan ini karena tergolong pemain baru yang saat ini masih dalam tahap pengembangan pasar.

Pengusaha Jakarta yang dikenal memang kabupaten Sidrap sebagai salah satu pemasok beras ke Jakarta, daerah lain tidak dikenal dengan baik, beras yang masuk di Jakarta mulai dari jenis PK, atau beras yang hanya pecah kulit sampai beras berkualitas premium dan beras kepala yang siap edar. Dipasar Induk Cipinang, dalam satu hari beras yang masuk adalah lebih dari 5.000 ton yang dipasok dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung dan Sulawesi Selatan.

Yang cukup menarik adalah salah satu BUMD DKI yaitu PT. Foot Station. Perusahaan ini bergerak disektor penggilingan dan pengadaan beras yang diberi tanggung jawab oleh pemerintah DKI untuk menyediakan ketersediaan beras di DKI dan juga sebagai salah satu badan usaha pengendali inflasi di sektor pangan khusunya beras di DKI Jakarta. Untuk tahun ini target produksi lebih dari 50.000 ton beras premium dalam berbagai kemasan dan beras untuk pemegang kartu Jakarta Sejahtra.

Kami berbincang dengan jajaran direksi yang sangat profesional dan bersih dari intervensi partai, di angkat di era Ahok dan nyaman bekerja diera Anies. Hebatnya perusahaan ini memiliki pabrik beras dan mampu berproduksi walau satu jengkal sawah di Jakarta tidak ada. 50 ribu ton bukan jumlah yang kecil walau bahan baku 100 persen didatangkan di berbagai daerah dan pulau tapi justru perusahaan ini mampu membukukan laba yang cukup besar setiap tahun dan mampu menjadi salah satu pengendali harga beras di Jakarta.

Hasil pengamatan saya dengan pengusaha penggiling di pulau Jawa ada berlaku dua masa yaitu masa petani dan masa penggiling, dan ini tidak baik di bawa ke Sulawesi. Masa petani adalah masa gabah mahal dikarenakan belum meratanya panen gabah belum mencukupi untuk mengisi pengusaha penggiling, masa kedua yaitu masa penggiling, dimana masa panen raya gabah melebihi jumlah kapasitas penggilingan gabah akan murah semurah-murahnya, bahkan tahun lalu di Jogja sampai hanya 3.000/kg. Jadi perdagangan gabah di Jawa memang tidak sehat karena diantara pengusaha penggiling dengan petani tidak terbangun kerjasama yang baik. Saya tanya teman-teman di Sidrap ternyata tidak separah di Jawa karena jumlah penggiling di Sidrap cukup seimbang dengan produksi petani.

Kepada pengusaha disana saya menyampaikan bahwa provinsi kami juga surplus beras, utamanya kabupaten Polman dan Mamuju, mereka baru tahu dan terbuka untuk bisa bermitra dan bekerja sama selain sidrap yang sudah lebih dulu. Pasar di Jawa untuk beras sesungguhnya cukup gurih karena mereka bisa menerima beras dengan harga 10.500 sampai 11.000/kg. Sesuai dengan kualitasnya bahkan untuk beras Pecah kulit mereka beli dengan harga 8.800/kg.

Untuk menghubungkan BUMD di DKI dan Sulbar alangkah enaknya kalau sesama BUMD, pengusaha penggiling beras cukup menyediakan beras sesuai dengan jenis atau kualitas beras yang dibutuhkan di DKI dan BUMD yang melakukan kontrak dan MOU. Artinya BUMD bisa menjadi perantara yang bermodal dan mengambil untung yang wajar kepada pengusaha penggiling di Sulbar. Rata-rata usaha beras marginnya kecil berada di kisaran 300 sampai dengan 400/kg yang penting pasar dan produksinya terjamin. Kalau ke Jawa margin bisa 1000/kg. Kalau BUMD mau ambil untung 250/kg tidak masalah bagi pengusaha penggiling, asal produksi bisa di jual lansung ke BUMD Sulbar dengan harga yang wajar, jangan seperti dolog beli beras dengan harga 8.000/kg ditengah gabah 5.300/kg. Tidak sesuai hitungannya.

Mempelajari ini semua memang ada kebijakan yang perlu diubah, karena saya ketemu ketua kelompok tani yang dia persoalkan adalah HET gabah, saya ketemu pengusaha beras yang dia juga persoalkan adalah HET beras. Lain lagi dengan keluhan Bulog sulit dapat beras dari mitra dengan harga 8000/kg. Terus pengusaha penggiling jadi terjepit karena berada di tengah dari unsur-unsur diatas, ditambah lagi adanya tengkulak gabah yang mengambil untung besar.

Inpres nomor 5/15 dan Permentan nomor 3/17 saat ini semua dilanggar, artinya Harga Ecer Tertinggi (HET) gabah sudah tidak sesuai dengan fakta dan biaya produksi. Perlu diubah disesuaikan dengan biaya produksi petani dari 3.700/kg bisa naik menjadi 4.500/kg agar bisa ditegakkan. Demikian juga harga pembelian bulog dari 8.000 menjadi 9.000/kg beras. HET beras pun bisa naik medium diangka 9.500 dan premium 13.000/kg.

Dengan demikian aturan itu bisa ditegakkan, Bulog juga bisa mewajibkan 10% produksi masuk di Bulog.
Untuk kami pengusaha penggiling di Mamuju saat ini agak lega karena hasil pertemuan Bupati dan para pedagang gabah dan Bulog. Kewajiban untuk mengisi Bulog tidak pada pengusaha penggiling tapi kepada para pedagang gabah.

Namun kebijakan apapun memang saat ini perlu penataan yang baik agar tercipta kepastian bagi petani harga eceran tertinggi dan harga beras Bulog. Demikian juga penyerahan bantuan alat-alat produksi agar disalurkan langsung kepada petani, bukan kepada pihak lain akibatnya petani kembali tereksploitasi dengan menyewa mahal baik traktor maupun alat panen.

Para pengambil kebijakan perlu turun melihat langsung, tidak hanya menerima laporan agar petani dapat mengambil manfaat dari kebijakan dan perhatian pemerintah yang sudah cukup bagus. Tapi sering diimplementasi tidak sesuai harapan, ada kepentingan orang perorang yang numpang, saya tahu karena saya sudah tidak lagi di tataran kebijakan tapi sudah menjadi praktisi dan pelaku.

BUMD dan Koperasi petani juga tidak jalan, akibatnya petani rentah dengan rente saat turun sawah utamanya saat butuh benih dan pupuk, sering petani tidak memiliki dana cash akibatnya terlilit dengan dana-dana mahal dan kewajiban menjual kepada pemberi utang walau dengan harga murah dan timbangan gila.

Dampaknya, petaninya tetap miskin dan yang lain kaya. Petani yang kerja keras tapi bukan sepenuhnya menikmati hasilnya, sebainya petani sejahtra, pedagang gabah untung investasi pabrik penggiling bisa kembali, kredit tidak macet, harga beras terjangkau. SEMOGA.

Batik Air, 14 Februari 2018

SDK

Check Also

Menuju Pemilu 2019; Partai dan Elektabilitas Caleg

Oleh : DR. H. Suhardi Duka (Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Barat) OPINI, KANDORANEWS.com – Pada …