Sunday , April 21 2019

Lagi, The 16 Millennial Gelar Public Education Hadirkan Caleg DPR-RI

MAMUJU, KANDORANEWS.com – The 16 Millennial kembali menggelar diskusi publik dengan tagline “Layak Jki Ka?” part II, yang menghadirikan empat narasumber calon legislatif (caleg) DPR RI daerah pemilihan (Dapil) Sulawesi Barat (Sulbar) diantaranya, H. Suhdardi Duka (Demoktrat), Salim S Mengga (Nasdem), Muhaimin Faizal (PAN), dan Arsyad Idrus (Golkar), di cafe Arena, Sabtu (22/2).

Adapun yang menjadi tema dalam diskusi publik ini yang dipandu oleh Syarifuddin Mandegar, sebagai moderator yaitu : “Ngapain ke Senayan?”

Suhardi Duka yang menjadi narasumber pertama yang dipersilahkan oleh moderator menyampaikan alasan maju menjadi caleg DPR RI mengatakan, tidak lain adaah komitmen mengabdikan diri untuk Sulbar.

“Bagaimana kita menjamin kesejahteraan masyarakat (Hak-hak ekonominya) dengan mengusai dan memanfaatkan milik negara, sumber ekonomi negara dengan secara adil, tidak membedakan antara satu dengan yang lain. itu pendekatan kesejahteraan,” katanya.

Selain itu, mantan Bupati Mamuju dua periode ini juga menyadari betul citra DPR RI dimata publik. Yang mana, masih berada pada titik nadi yang rendah. belum menjadi tempat publik untuk menggantungkan nasib dan harapannya. Bahka DPR RI masih tercitra sebagai tempatnya orang-orang korupsi, melakukan penyimpangan-penyimpangan hukum dan mementingkan dirinya sendiri. Melihat hal tersebut, ia menganggap itu adalah sebuah tantangan tersendiri untuk dirinya.

“Alhamdulillah saya di Mamuju, citra saya masih baik. Sehingga demikian saya kesana tidak ingin mencederai citra diri saya yang baik di Mamuju. Saya kesana tidak lain adalah komitmen untuk sebuah pengabdian. Saya ingin mengabdi untuk publik di Sulbar dari Paku sampai Suremana dan di timur adalah Mamasa,” ungkapnya.

“Tapi tentu kita tidak seperti Gubernur atau Bupati yang akan merangkapi semua kebutuhan masyarakat karena DPR sangat terbatas fungsinnya. Legislasi, Bajet (anggaran) dan Kontrol,” tambahnya.

Sehinggga denga tiga fungsi tersebut, dirinya ingin memanfaatkan betul fungsi tersebut untuk pembangunan di Sulbar, jika nantinya ia terpilih menjadi anggota DPR RI pada 17 April mendatang.

Salim S Mengga, yang menjadi narasumber kedua mengaku sudah faham betul tentang konsekuensi yang harus ditanggung ketika DPR RI. Sebab dirinya delapan tahun menjadi anggota DPR RI. Ia bercerita, selama manjadi anggota DPR RI dirinya tiga kali dipindah komisi. Itu dikarenakan ia berpegang teguh dengan yang namnya politik kepercayaan.

“Politik bertujuan untuk terwujudnya kondisi sosial yang baik dan berkeadilan. Politik seperti ini itu sangat tergantung pada nilai. kedua Ideologi dan ketiga kondisi. Karena itulah politik yang saya bangun adalah politik kepercayaan. Bagaimana membangun kepercayaan masyarakat. karena tanpa kepercayaan politisi hanya seperti lilin. menyelah sejenak, ia bersinar, setelah habis diapun habis. tetapi seperti yang saya bangun ini, sulit sekali untuk bisa diterima orang terutama dilembaga legisltaif,” katanya.

“Selam di DPR RI saya tiga kali dilempar kiri kanan. pertama saya dikomisi satu, dilempar ke komisi dua. di komisi dua ada persoalan E-KTP, saya dilempar lagi ke komisi tiga, selesai E-KTP saya dikembalikan lagi ke kmomisi dua. alhamdulilah saya terlibat (kasus korupsi E-KTP),” akunya.

Ia juga menjelaskan bahwa tidak semua orang yang ada di DPR RI itu buruk. Masih ada yang berpegang kepada nilai. Akan tetapi orang-orang tersebut tersisihkan, mennjadi tidak populer karena dianggap tidak bisa diajak kerja sama dan tidak bisa mengerti situasi. Olehnya litu ia berpesan kepada caleg yang maju untuk memiliki kekuatan atau Istiqomah, “Anda mau buat saya seperti apa, silahkan saya tetap akan berada pada jalan lurus saya,” tambahnya.

Mantan Anggota DPR RI ini juga berharap, semoga orang yang terpilih adalah mereka yang punya kapasitas, berintegritas dan peduli kepada rakyat. Sebab, di DPR RI hanya empat kursi untuk dapil Sulbar.

“kan memprihantikan sudah punya kursi cuma empat, kualitasnya pun tidak ada apa-apa. itu yang menjadikan saya dan mengapa saya masih maju, saya menunggu generasi yang lebih mudah lebih berkualitas. kasi mereka kesempatan jangan kita tutup meraka, Jadi siapapun yang nantinya terpilh tolong berkejalah secara maksimal, kemudian berjuanglah untuk rakyat mu,” tuturnya.

Masih ditempat yang sama, Muhaimin Faizal yang menjadi pembica ketiga mangatakan, bagu dirinya DPR RI itu hanya terminal saja. sebab menurutnya tak jadi anggota DPR RI pun ia bisa berbuat sesuatu untuk ikut dalam membangun Sulbar.Namun karena DPR RIyang mempunyai fungsnya menyusu legislasi, anggaran dan pengawasaan terhadap pihak ekskutif, olehnya itu dirinya memantapkan diri untuk maju.

Apalagi di era modern ini, ia berharap kepada pemuda millenial untuk ikut bisa bekerjasama dalam hal gagas sesuatu yang kreatif.

“Tetapi lagi-lagi bagi saya DPR itu terminal, DPR itu hanya lima tahunan makanya bagi saya caleg ini sampingan saja. pekerjaan utama saya ikut-ikut menggarap film. Tanpa harus disitupun kita masih bisa bekerjasama. Saya berharap nanti kita bisa bekerjasama untuk membuat gagasan-gagasan kreatif,” katanya.

Arsyad Idrus yang menjadi pembicara terakhir mengatakan jika masyarakat sadar betul dengan tentang fungsi DPR RI hanya ada tiga yakni, legislasi, anggaran dan fungsi pengawasan, maka sebelum terpilih menjadi anggota DPR RI maka kualitas demokrasi akan meningkat signifikan.
Olehnya itu dirinya menyatakan rakyat mempunyai hak penuh untuk menentukan pilihannya siapa caleg yang akan dipilihnya, tanpa ada tendensi dari siapaun.

“Karena pemilih kita sebelumnya masih termobilisir kadang oke siap memilih ada amplop. kalau ini bisa diselesaikan, saya kira satu persoalan di Sulbar selesai. Bagi saya seorang caleg yang lolos ke Senayan, menurut saya standing berfikirnya memang harus nasional. karena semua produk yang dihasilkan disana bukan ditujukan kepada satu provinsi. tapi untuk seuruh wilayah di Indonesia, undang-undang untuk nasioanl, mentapkan dan menambah anggran untuk nasioal,” katanya.

Ia menjelaskan, anggota DPR RI hanya tiga buln sekali melakukan reses, dan hanya sembila hari di dapilnya. Sisahnya, kunjungan spesifik, kunjungan kerja, di daerah lain, diluar dapil. “Betul DPR akan berpihak kepada Dapilnya tapi standing berfikirnya harus nasional, harus nemahami persoalan nasional,” tutup Arsyad. (zul/ra)

Check Also

Kapolda Sulbar Terus Himbau Jaga Kondusifitas Pasca Pemilu

MAMUJU, KANDORANEWS.com – Ucapan terima kasih Kapolda Sulbar Brigjen Pol Drs Baharudin Djafar kepada seluruh …