Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Sunday , September 23 2018

KNPI Apa Kabarmu..?

KandoraNews.com

Oleh : Syarifuddin Mandegar

(Pemerhati Sosial)

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang pada mulanya dideklarasikan oleh David Napitulu pada 23 Juli 1973, terdiri atas orang orang muda yang dibina cukup lama oleh penguasa orde baru. Disamping itu Deklarasi Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, merupakan landasan kelahirannya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), muncul dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab pemuda Indonesia dalam mengerahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945). Deklarasi Pemuda bertujuan menindaklanjuti isi pesan suci Sumpah Pemuda yang telah menggariskan kebutuhan keberhimpunan, dengan menyatukan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, dan ikut mengisi kemerdekaan. KNPI sendiri terdiri dari Gabungan dari kelompok Cipayung, orang-orang binaan kader Golkar, dan Tentara betulan adalah yang membentuk organisasi yang kemudian bernama KNPI. Walhasil KNPI di awal berdirinya adalah organisasi yang mendapat “karpet merah” dari penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto. Buktinya akhir tahun 1973 delegasi KNPI adalah satu-satunya delegasi yang sangat dinikmati kehadirannya oleh Deputi Bappenas JB Sumarlin dalam serangkaian unjuk rasa mahasiswa yang marak pada saat itu menentang masuknya modal asing. Saat itu kubu KNPI atau bisa dibilang kubu Ali Moertopo membawa konsep-konsep yang digodok oleh CSIS di Tanah Abang berhadapan dengan konsep Menteri Perekonomian/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro yang umum dikatakan sebagai “mafia Berkeley”.

Sekelumit sejarah itu memberikan pelajaran penting bahwa KNPI adalah sebuah wadah berhimpun organisasi kepemudaan yang membentuk sebuah senyawa egalitarian untuk memperjuangan nasib kaum miskin, nasib para petani, nasib para anak-anak putus sekolah yang kini berada dipersimpangan jalan, ditengah-tengah para elit social yang luput dari perhatiannya, akibatnya kemiskinan terus menjadi problem besar bangsa ini. Sangat ironis ketika organisasi besar itu yang dihuni oleh-oleh kalangan pemuda yang telah memiliki kematangan social tetapi tidak mampu memberikan kontribusi yang jelas ditengah komplikasi penyakit kebangsaan yang makin akut itu akibat rapuhnya system social dengan hadirnya para koruptor di jajaran pejabat negara, hadirnya para mafia keuangan Negara, mafia hukum, pemerintahan yang makin tidak memberikan jaminan kesejahteraan bagi masyarakat sementara kemiskinan semakin menganga dan makin terpisah jauh dari kemakmuran dan keadilan, pertanyaannya adalah kemana KNPI selama ini..? bukankah orgnasisasi ini telah mendiami seluruh wilayah nusantara dan memiliki visi-misi yang hebat disetiap priodesasi kepemimpinannya?, ketika kita membaca visi-misi itu tidak perlu menunggu periode kepemimpinan itu berakhir maka semua masalah di negeri ini akan selesai. Namun parahnya visi-misi hanya sebatas angan-angan yang tidak pernah ada wujudnya. Inilah akibat jika yang memimpin KNPI tidak mampu melepaskan diri dari logika kekuasaan dan terbukti di Sulawesi Barat misalnya beberapa Ketua KNPI baik Provinsi maupun Kabupaten rata-rata mereka adalah anak seorang Bupati, Logika ini ibarat anak ayam yang tidak bisa lepas dari induknya dan setelah anak ayam itu besar mereka akan mencari pasangan untuk generasi selanjutnya. Sebuah siklus dalam logika Aristotelian disebut dengan tasalsul (tidak ada ujung dan pangkalnya) bahkan bahayanya bisa saja Organisasi kepemudaan ini akan meninggalkan kesadaran sejarahnya karena telah dijarah oleh sejarah baru yakni middle dinasty.

Ditengah problem KNPI sepert itu, sudah saatnya mendaur ulang psikologi leadhership KNPI dimana orang-orang yang harus tampil sebagai juru kemudi organisasi ini adalah mereka yang rela melepas atribut kekuasaan yang melekat pada dirinya  dan mengubahnya menjadi sang inspirator gerakan kepemudaan secara independen. tentu saja gerakan itu tidak dimaknai sebagai parlemen jalanan tetapi gerakan yang dimaksud adalah gerakan cultural sebagaimana yang ungkapkan oleh Almarhum Masyur Fakih dalam bukunya Intelektual Organik yakni sosok intelektual yang mencerahkan dan mampu menggerakkan para generasi muda untuk bangkit dan melawan tirani secara intelektual yang tentunya dimulai dari dirinya sendiri.  Tidak hanya itu bahwa gerakan kepemudaan juga harus dimaknai sebagai pemuda yang tidak kehilangan orientasi masa depan sebab secara realistis mereka adalah manusia yang membutuhkan pekerjaan tapi bukan berarti mereka kehilangan visi pergerakan.

Pada konteks yang lain, KNPI yang merupakan produk dari kebijakan korporatisme tentu tidak mudah untuk melepaskan diri dari logika pembinaan atau pengendalian. Pembinaan inilah yang sangat kondusif bagi berkembangnya budaya restu. Karena tanpa restu dan dukungan dari sang Pembina tidak akan mempunyai makna dan justeru nihil politik. Budaya restu ini mempunyai implikasi yang sangat dominan. Orientasi aktivitas pemuda yang memliki karakter yang kritis akan terkungkung (kooptasi), sehingga tidak mampu melakukan tekanan (pressure) kepada pemerintah dalam menyalurkan aspirasi politiknya. Fungsinya hanya sekedar saksi dan legitimasi bagi formalisasi ketukan palu yang sudah diputuskan sebelumnya. Forum pengambil kebijakan kehilangan dinamika, karena lebih banyak dikendalikan oleh remote kekuatan di balik layar. Untuk mendapatkan restu dan memenuhi kepentingan politiknya, bagi aktivitas mutlak dibutuhkan patronase politik. Sang pemimpin ibarat klien politik yang mencari fatronnya yang berfungsi sebagai pelindung, sekaligus kekuatan pendongkrak bagi mobilitas politiknya, Sedangankan sang patron (penguasa) si klien menjadi kepanjangan tangannya, untuk melakukan pembinaan atau pengendalian politik.

Realitas tersebut tidak mudah untuk merubahnya. Kalaupun berubah itu hanyalah pergeseran personal saja, baik pada tingkat klien dan patron (penguasa). Klien bisa mencari patron baru bila yang lama sudah tidak berkuasa. Sebaliknya patron juga gampang mencari klien baru, bila yang lama ternyata tidak cakap atau mbalelo. Hal tersebut telah terjadi di tubuh KNPI selama ini dan terkadang hal itu menjadi faktor determinan bagi berlangsungnya kepemimpinan KNPI dari masa-kemasa. Soal kualitas, kapabilitas, kapasitas dan integritas pribadi bukanlah sesuatu yang menentukan, meski tetap penting. Dalam kondisi demikian, maka restu politik sang patron termasuk kekuatan finansial menjadi faktor yang paling penting. Sementara forum-forum yang berdimensi intelektual dan kritis dapat dikatakan hilang. Inilah bukti betapa KNPI di daerah ini tidak mampu melakukan apa-apa untuk sebuah gerakan-gerakan social.

Visi Kedepan…..Memperhatikan kondisi tersebut diatas, serta berbagai peluang ke depan, maka terdapat beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh para aktivis KNPI di deareah ini dalam menata organisasinya ke depan. Pertama, KNPI sebagai wadah berhimpun pemuda, semakin dituntut untuk mengembangkan sikap-sikap kepemudaan yang kritis dan progresif, sekaligus menghindarkan diri dari sikap dan prilaku yang membebek(epigonistik). Prilaku tersebut bukan tidak sejalan dengan dinamika kepemudaan yang kritis dan dinamis, Tetapi akan membuat image bahwa KNPI tidak lebih sebagai kepanjangtanganan pemerintah untuk meredam dinamika kaum muda yang memiliki karakter agent of changes . Selain itu KNPI dituntut untuk tidak apriori terhadap elemen apapun baik pemerintah maupun berbagai dinamika ragam potensi kepemudaan di antaranya LSM dan OKP lainnya. KNPI juga harus mampu menyikapi secara obyektif berbagai problem sosial yang terjadi dan menyikapinya secara kritis, korektif dan konstruktif.

Kedua, KNPI harus tanggap atas realitas dan dinamika kepemudaan yang mulai jenuh. Karena kejenuhan ini semakin jelas sebagai bentuk protes terhadap berbagai realitas sosial seperti, ketidakadilan dan kemiskinan. Problema tersebut mesti diantisipasi dengan berbagai bentuk dan ragam pemikiran, sikap dan aktivitas. Karena hal tersebut akan memberikan kontribusi yang besar bagi KNPI secara positif. Ketiga, KNPI perlu menyeimbangkan proporsi orientasinya baik orientasi politik, ekonomi maupun kulturalnya, Orientasi terhadap politik menjebak KNPI pada kepentingan pragmatis yang sempit dan sesaat. Karena KNPI akan kehilangan sikap kritis dan progresif, serta akan menjadi klien system patronase politik. Padahal politik KNPI adalah politik pemuda yang bernuansa luas dan bervisi kedepan, yakni pengembangan demokrasi dan kemandirian pemuda. Dalam membangun politik KNPI yang demikian maka dialog dengan berbagai elemen harus terus menerus dilakukan sehingga akan melahirkan visi sosial yang tajam dan akan menjadi cerminan masyarakat secara luas.

Keempat, Mari kita kembali ke Khittah KNPI sebagai wadah pemuda harus senantiasa dijaga dan diejawantahkan dalam program organisasi. Sehingga KNPI tidak lagi dimonopoli kalangan tertentu, sementara kualitas perannya semakin hilang. Sebagai wadah Pemuda, KNPI eksistensinya dituntut harus mampu memainkan perannya dalam bersentuhan dengan kebutuhan, aspirasi dan kepentingan segenap pemuda di Sulawesi Barat, khususnya dalam aktualisasi potensi yang dimilikinya. Kelima, secara internal banyak problem KNPI yang mendesak mesti dibenahi sebagai jawaban logis dari dinamika internal maupun eksternal. Problem-problem inilah yang menjadi sebab mengapa KNPI terasa mengalami degradasi peran, meski metabolisme organisasi masih berjalan normal. Serta memperkukuh nilai-nilai independensi sebagai peran untuk menjaga kredibilitas KNPI. Hal ini patut diperhatikan, demi menjaga obyektifitas dan kekritisan kerja-kerja KNPI.

Hal yang tersebut diatas juga mesti dilakukan pada potensi-potensi kaum muda lainnya yang konsen terhadap perkembangan pembangunan di Sulawesi Barat, Benar bahwa KNPI disiapkan sebagai wadah berhimpun para pemuda, tetapi berbagai benturan antara perspektif pemikiran dan kepentingan lebih mengedepan dari pada kerja-kerja kemanusiaan dan kemasyarakatan yang dilakukan. Belum lagi dengan munculnya saling sinis antara Organisasi dan gerakan dengan aktivis LSM, atau kelompok independen lainnya, Sekali lagi konflik tersebut membutuhkan dialog terbuka , karena tujuan masing-masing tampaknya tidak berbeda yakni untuk mensubstansikan masa depan Sulbar yang sejahtera.

Comments

comments

Check Also

Gerakan Mahasiswa Daerah Diluar Daerah.

Oleh : Hairil Amri Ketua Umum IKAMA Sulawesi Barat Yogyakarta (2017-2019) OPINI, kandoranews.com – Sebaiknya kita tidak …

Adventorial