Sunday , December 16 2018

Ketika Manyang Menawarkan Syurga Dan Neraka.

Oleh Muhammad Munir Aktif di Appeq Jannangan dan Inisiator Sepeda Pustaka, Motor Baca dan Rumah Pustaka.

KandoraNews.com

MANYANG DAN PROSPEKNYA

Minuman khas Mandar yang bernama “MANYANG ” atau Tuak, atau oleh Orang Bugis Makassar dinamai Ballo, Saguer (Kata Orang Sanger) dan Akel (kata orang Minahasa). Siapapun yang ada di Mandar dan pernah datang mengunjungi daerah Mandar atau yang sekarang dikenal Sulawesi Barat, pasti pernah mendengar dan mengetahui jenis minuman tradisional yang bisa menjadi minuman beraroma khas dan nikmat “Manyang Mammis ” atau tuak manis dan bisa menjadi minuman beralkohol tinggi jika diproses dalam bentuk minuman yang lebih dikenal dengan “Manyang Paiq” atau tuak pahit.

Baik Manyang Mammis ataupun Manyang Paiq, adalah minuman yang diproduksi secara tradisional oleh masyarakat tanpa ada campuran kimia ini memang dihasilkan oleh para petani yang daerahnya banyak dipenuhi pohon “Manyang” atau Pohon Aren. Manyang yang diproduksi menjadi minuman manyang mammis ini selain untuk menjadi minuman kesehatan, juga merupakan bahan untuk membuat “manisan”. Manisan adalah hasil dari proses pengawetan manyang yang ditanak, dengan pemanasan ini, manyang ini akan sedikit mengental dan menjadi cairan gula (gula cair) dan dari manisan ini kemudian jika diproses lagi. Dengan cara dipanaskan dengan suhu yang tinggi cairan manisan tadi akan mengental (mapuliq) dan langkah selanjutnya cairan yang sudah kental dan berbentuk kayak adonan kue ini di tuang ke wadah atau lembaga tertentu (kebanyakan dari tempurung kelapa atau kaqdaro),didinginkan dan kemudian dikeluarkan dari wadah tempurung itu, sehingga terbentuk bulat seperti bentuk kelapa dibelah. Dan hasil dari proses inilah kemudian atau golla mamea (gula merah atau gula aren).

Sekedar diketahui, bahwa Manisan adalah bahan yang yang digunakan oleh masyarakat dalam memuat Bajeq (Bayeq). Dan sebelum dicetak dalam wadah tempurung, ada juga cara satu jenis cemilan yang namanya “Golla Coba”, Cappille menurut orang Campalagian atau gula yang dibuat dalam bentuk permen yang biasanya dibungkus pake kulit jagung.

Adapun Manyang paiq juga berasal dari sumber yang sama dengan manyang mammis tapi prosesnya yang beda. Manyang paiq ini memang diformulasi khusus oleh para petani yang akrab dikenal “Passari Manyang” sesuai order atau pesanan. Manyang Manyang Paiq ini dibuat dan punya campuran, cara dan perlakuan yang khusus.

MANYANG PAIQ, CAP TIKUS DAN SEJARAHNYA

Minuman “Manyang” ini dibuat sendiri oleh orang Mandar dengan cara tradisional. Sebelumnya, para petani harus “Sumari” dulu untuk menghasilkan minuman “Manyang” yang diambil dari pohon manyang atau aren. Manyang dihasilkan dengan cara tangkai bunga pohon aren yang sebesar pergelangan tangan orang dewasa, dibersihkan dan dipukul-pukul selama beberapa hari lalu dipotong.

Dari potongan ini akan keluar getah warna putih susu yang menetes dengan cepat hingga perlu tempat penampungan yang ukuran seruas bambu (kokoq) ukuran 1 atau 2 meter panjang. Cairan warna putih susu inilah yang dinamakan Manyang.

Cairan itulah yang dikumpulkan untuk pembuatan jenis minuman manyang mammis dan manyang paiq. Manyang ini oleh orang Minahasa dijadikan bahan utama pembuatan minuman beralkohol tinggi yang terkenal dan banyak dijual secara bebas disana, termasuk Buol, Toli-Toli, Palu bahkan sampai kewilayah Mandar ini, Cap tikus sudah bukan barang baru lagi.

Sedikit informasi saya dapat jelaskan dari tetangga saya yang orang Sanger, saat saya berada di Toli-Toli (2012-2013). Cap Tikus yang dikemas dalam plastik gula ukuran 1 liter itu dijual dengan harga 10 sampai 15 ribu di kota Toli-Toli. Cap Tikus ini dibuat dari proses air Manyang tadi dialirkan melalui pipa-pipa bambu yang sudah diatur sedemikian rupa. Uap panas yang melalui pipa bambu yang panjang ketika mencair akan berubah menjadi Cap Tikus. Para pembuat Cap Tikus lebih suka memilih lokasi pegunungan yang dingin dan tempat berbukit supaya pipa bambu penyulingan tidak diatas pohon tapi dipermukaan tanah perbukitan.

Dari tulisan salah seorang teman saya di medsos, mengurai Legenda Minahasa mengenal dewa Makawiley sebagai dewa saguer pertama (Leway = busa saguer/Manyang). Kemudian ada juga dewa saguer yang bernama Kiri Waerong yang dihubungkan dengan pembuatan gula merah dari saguer yang dimasak. Dewa saguer yang ketiga adalah dewa Parengkuan yang dihubungkan dengan air saguer yang menghasilkan Cap Tikus . Parengkuan mempunyai kata asal “rengku” artinya, minum sekali teguk ditempat minum yang kecil. Dari arti kata tersebut maka orang Minahasa menyakini bahwa Parengkuan adalah orang Minahasa pertama yang membuat minuman Cap Tikus.

Minuman keras tradisionil Minahasa ini pada mulanya bernama sopi. Namun, nama “Sopi” berubah menjadi Cap Tikus ketika orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi perang Jawa, sebelum tahun 1829, menemukan mimuman “Sopi” dalam botol-botol biru dengan gambar ekor tikus. Minuman “Sopi” itu dijual oleh para pedagang Cina di Benteng Amsterdam Manado.

Dalam upcara naik rumah baru, para penari Maengket menyanyi lagu Marambak untuk menghormati dewa pembuat rumah, leluhur Tingkulendeng . Tuan rumah harus menyodorkan minuman Cap Tikus kepada Tonaas pemimpin upacara adat naik rumah baru sambil penari menyanyi ” tuasan e sopi e maka wale ” artinya, tuangkan minumam Cap Tikus (sopi) wahai tuan rumah.

Keterangan mengenai minuman Cap Tikus di Ternate ditulis oleh juru tulis pengeliling dunia Colombus dari Spanyol bernama Antonio Pigafetta. Setelah kapal mereka melalui dua buah pulau Sangir dan Talaud lalu tanggal 15 Desember tahun 1521 mereka tiba di pelabuhan Ternate – dijamu Raja Ternate dengan minuman arak yang terbuat dari air tuak yang dimasak.

Sayang sekali buku “Perjalanan keliling dunia Antonio Pigafetta” terbitan tahun 1972 halaman 127 – 128 tidak menjelaskan dari mana Raja Ternate mendapatkan minuman Cap Tikus. Kalau kita lihat masyarakat Ternate tidak punya budaya “Batifar” hingga kemungkinan besar minuman Cap Tikus sama halnya dengan beras yang didatangkan ke Ternate dari Minahasa. Budaya produksi dan menjual minuman Cap Tikus masih berlanjut di Minahasa hingga sekarang ini dengan penjualan sampai ke Irian.

Data ini menunjukkan bahwa bukan orang Spanyol yang mengajarkan cara membuat minuman Cap Tikus di Minahasa. Karena, waktu pertama kali orang Spanyol datang di Ternate, minuman itu sudah ada. Bagi orang Spanyol, minuman Cap Tikus telah menjadi bumerang karena melalui minuman itulah orang Spanyol di usir dari Minahasa. Hal itu terjadi karena serdadunya suka mabuk-mabukan dan akhirnya membunuh Dotu Mononimbar di Tondano dan melukai anak Kepala Walak Tomohon tahun 1644.

Masa hidup dewa minuman keras Minahasa Opo Parengkuan adalah sebelum periode kedatangan bangsa kulit putih Portugis – Spanyol di Minahasa tahun 1512 – 1523. Pada waktu itu pedagang Cina dengan perahu yang telah datang membawa keramik ke Minahasa. Dari usia dinasti keramik Cina di Minahasa abad 13 dan abad 14, dapat diperkirakan bahwa orang Cina-lah yang mengajarkan orang Minahasa untuk membuat minuman keras Cap Tikus dengan menyuling Saguer.

Tapi menurut buku ” Adatrechtbundels XVII. 1919 halaman 79 ” , minuman keras tradisionil ini telah menyelamatkan orang Minahasa dari ketergantungan Candu dan Opium di abad 18. Karena orang Minahasa sangat mencintai minuman Saguer dan Cap Tikus, maka orang Minahasa sudah tidak tertarik lagi dengan candu dan opium, walaupun harganya cukup murah.

MANYANG DAN NARKOBA

Lalu apa hubungan Minahasa dan Cap Tikus dengan Mandar dan Manyang paiq ini ? Tentu saja tulisan ini tidak dalam rangka membuat kajian historis dan proses akulturasi cap tikus ke Mandar. Hanya saja, saya hanya ingin menyampaikan bahwa kondisi masyarakat kita hari ini sudah dalam kondisi darurat narkoba. Darurat narkoba ini terjadi karna proses pembiaran oleh pemerintah,yang terkesan setengah hati dalam menangani para pemabuk manyang paiq ini. Para penikmat manyang paiq ini ladang bagi pengedar narkoba untuk masuk dalam lingkungan masyarakat.

Mereka masuk dalam lingkungan masyarakat itu tentu tidak kampanye mengajak masyarakat untuk minum dan bermabuk-mabukan. Akan tetapi mereka mercoki fikiran mereka dengan sensasi kenikmatan dari narkoba yang bisa sebegitu cepat mengantar mereka sampai ke dunia ‘teler’ tanpa harus sibuk menenggak minuman bergelas-gelas atau berbotol-botol.

Fikiran generasi yang sudah sering mabuk dan teler ini kemudian direcoki dengan percobaan-percobaan yang tentu saja membuat mereka keasyikan . Tidak hanya berhenti sampai disitu, mereka kemudian mengajak menularkan kenikmatan itu untuk asyik-asyikan, sekaligus peluang bisnis yang begitu menjanjikan.

Tergiur dengan itu, para pemasok barang haram itupun beraksi dan jadilah narkoba menjadi trend bagi generasi kita. Tak pernah ada dalam benak mereka resiko yang ditimbulkan dimasyarakat. Begitu juga generasi kita yang terjaring bisnis haram ini. Mereka kemudian sadar ketika digelandang ke Mapolres yang tentu saja merupakan awal kehidupan baru buat mereka.

Di sel isolasi, rumah tahanan itu apakah mereka itu sadar ? Butuh kajian khusus untuk menjawabnya. Sebab kemudian negara (pemerintah) kita menggelontorkan anggaran dari post APBN/APBD dengan dalih Darurat Narkoba ! Yah, Narkoba telah menjadi pemenang di negeri ini dan tentu saja berbiaya sangat mahal.

Sedarurat itukah kondisi negeri kita? Pertanyaan ini lagi-lagi butuh kajian dan analisis ilmiah untuk menjawabnya. Apakah ini sebuah upaya sistemik penguasa dan bandar internasional, ataukah merupakan program jaringan dari para missionaris atau justru merupaka misi untuk mengorek anggaran dari kocek negara kita?

Tidak harus saya jawab, pun pemerintah tidak harus mencari jawaban. Sebab yang kurang dari kita bukanlah personil, bukan anggaran, bukan SDM, tapi kesadaran berbangsa dan bernegara kitalah yang kurang. Budaya, Agama, Politik dan Hukum kitalah yang belum menemukan jati dirinya sebagai Mandar dan sebagai Bangsa Indonesia.

Check Also

Menuju Pemilu 2019; Partai dan Elektabilitas Caleg

Oleh : DR. H. Suhardi Duka (Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Barat) OPINI, KANDORANEWS.com – Pada …