Tuesday , March 19 2019

Jendela Itu Bernama Buku

Oleh : Adi Arwan Alimin
(Peminat Buku/Writer)

Kandoranews.com – Jangan berdiskusi dengan orang tidak membaca buku! Kalimat itu ditegaskan almarhum Husni Djamaluddin, Panglima Puisi Indonesia, yang pertama kali menyebut Sulawesi Barat ini sebagai provinsi malaqbiq. Wartawan senior, sastrawan, lelaki ganteng, juga mantan anggota DPRD Sulsel itu memang telah berpulang. Tapi pesan tunggalnya masih terus relevan.

Betapa banyak diantara kita yang tak menggilai bacaan, sementara kita ingin disebut memiliki kecerdasan tinggi. Kemampuan analisis, dan juga kearifan budi hanya berhulu dari seberapa banyak anda membaca buku, dan mendiskusikannya dengan orang lain. Di titik ini, sungguh tak sedikit yang mendebik dadanya bahwa telah berada di zona pintar, sementara teks dan konteks yang berpusar di kepalanya hanya argumen kesiangan.

Ini mungkin semacam sindiran, atau juga dapat berarti pukulan telak bagi dunia intelektual kita. Saya sering menyebutkan kebiasaan Presiden Soekarno sejak muda, yang tak pernah jauh dari buku. Atau, sebutlah tokoh pergerakan seperti Syahrir, Bung Hatta, M. Natsir yang pada zamannya yang serba terbatas, minimal membaca satu buku setiap pekan. Bandinglah kebiasaan mengutui buku para aktivis hari ini.

Contoh lain, para ulama Salaf terdahulu yang hingga hari ini telah mewariskan ilmu dari karya-karya mereka yang menakjubkan dan abadi. Diantara mereka ada yang membaca buku sebanyak 200.000 judul sepanjang hidupnya, atau memiliki kebiasan menulis buku setiap hari!  Timbanglah dengan memakai jungkat-jangkit kadar pengetahuan kita saat ini.

Di era yang makin canggih ini, kita sepantasnya lebih pandai dan hebat dari pendahulu. Sayangnya dukungan android atau smartphone sepertinya membuat bablas. Yang tumbuh subur malah tradisi copas atau kopi paste makalah atau bahkan karya ilmiah lainnya. Saya memiliki benturan pengalaman semacam ini saat masih aktif di kampus. Kemampuan menulis sebagian besar mahasiswa membuat miris. Menyedihkan.

Mengapa ini terjadi? Akar mulanya mengenai tradisi membaca yang tidak menjadi budaya masyarakat kita. Di Mamuju saya kerap mengunjungi taman kota sambil menenteng buku. Ruang publik yang ada sebenarnya telah cukup mendukung, tetapi pemandangan lebih banyak justru menyemutnya generasi runduk. Bahwa kita makin individualistis meski sedang berada di ruang publik.

Tak ada alasan yang lebih utama selain terus mendorong urgensi membaca. Bila perlu gagasan ini perlu didorong secara serius ke pemerintah daerah. Mamuju misalnya, sebagai kota dan akan menjadi ikon provinsi, tak memiliki alasan untuk menghadang kepentingan kita pada dunia literasi. Secara individu dan komunitas ini sesungguhnya telah bergerak sejak lama meski jauh perhatian.

Bila kita ingin membuka jendela yang lebih luas mengenai wawasan baru, dan kemampuan kita mengadaptasi perkembangan yang terus berlari kencang, warga sejatinya diberi ruang lebih luas. Membaca buku bukan hanya menjadi milik para pemikir atau penulis, atau pustakawan yang saban hari menjaga perpustakaan yang sepi pengunjung. Tetapi keterampilan ini mesti serupa kenikmatan yang terus membuahi kecerdasan berpikir, bahkan bertindak.

Buku, jendela yang sanggup mengantar kita membuka hakikat ilmu pengetahuan. Hanya perlu dituas sedikit saja. Sebab kita masing-masing memiliki kuncinya. Cukup memiliki minat, kesadaran, dan konsistensi menjaga rasa haus pada hal-hal baru. Tabik! (*)

Makassar, Malam 21 Ramadhan 1437 H.

Check Also

Dewan Tersandera

Oleh : DR. H. Suhardi Duka OPINI, kandoranews.com – Tersangkanya empat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) …