Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Tuesday , October 16 2018

Jangan Lupa Bahagia

OPINI, kandoranews.com – Apakah orang Kaya bahagia ? Oh belum tentu, atau mungkin pejabat ? juga demikian dan tentu orang miskin lebih tidak tentu  bahagia. Dalam ukuran suatu negara bahagia, baru-baru ini Word Happiness Report menurunkan laporan negara-negara paling bahagia di dunia ditahun 2017, dan negara paling galau atau tidak bahagia dari 155 negara, Indonesia berada pada peringkat ke-81 dengan skor 5,26. (merah).

Jeffrey Sach, direktur SDSN dan penasehat khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengaratakan negara yang warganya paling bahagia adalah negara yang memiliki keseimbangan kemakmuran kebiasaan yang terukur dan modal sosial, dengan tingkat kepercayaan yang tinggi di masyarakat, ketimpangan rendah dan kepercayaan kepada pemerintah.

Melihat Indikator itu  sulit bagi kita membantah peringkat Indonesia di urut ke-81, selain memang PDRB masih rendah, dan yang paling dirasakan  adalah ketimpangan dalam masyarakat atau index Gino ratio. Tingkat distribusi kemakmuran di Indonesia sungguh semakin tidak adil PDB kita hanya dinikmati oleh segelintir orang di tengah rakyat yang hanya sebagai kuli. Pemilik modal semakin terbuka dan enak mendapat fasilitas serta dana perbankan untuk menciptakan gurita perusahaan, disisi lain rakyat dan pelaksana ekonomi mikro semakin terpinggirkan dan terkena gusur.  Ini berbahaya karena bisa menciptakan rasa kebencian pada kelompok yang kaya dari mereka yang tidak bahagia.

Indikator yang kedua adalah tingkat kepercayaan pada pemerintah, bila suatu negara tingkat ketimpangannya tinggi, yakinlah rakyatnya tidak akan memiliki kepercayaan pada pemerintahnya. Hal ini linear antara keadilan dan kepercayaan. Disatu sisi semakin terasa bahwa hukum tidak berdiri ditengah justru semakin kasak  mata bahwa hukum dan institusinya sering menjadi alat kekuasaan. Kalau situasi ini berjalan lama maka masyarakat bila melihat ketidakadilan maka memilih diam atau bertindak sendiri karena institusi hukum sudah tidak lagi dipercaya.

Untuk itu maka Indonesia perlu memperbaiki aspek kehidupan dalam masyarakat jangan dibiarkan lama kondisi ini ditengah masyarakat. Bangsa ini lama terjajah, lama miskin, dan sekarang Indonesia sudah masuk G20, dalam kategori emergin countries. Pimpinan daerah harus mampu merencanakan pembangunan yang inklusif jangan hanya mercu suar merebut proyek antara SKPD Tanpa memperhatikan manfaat Bagi kehidupan dan kesejahtraan masyarakat. Keadilan ekonomi dan layanan publik harus mendapat prioritas dalam pembangunan daerah. Miris kita menyaksikan ada rakyat yang sakit kemudian rumah sakit pemerintah menolak untuk rawat inap, ada mahasiswa yang putus karena tidak mampu bayar uang kuliah, ada pedagang terhenti menjual akibat kehabisan modal, dimana kehadiran pemerintah ditengah rakyatnya yang sulit dan berharap ?

Dalam merencanakan pembangunan inklusif ada 3 hal yang perlu diperhatikan, pertama kapasitas institusi dan sumberdaya yang tersedia, kedua daya dukung publik dan steackholdernya, ketiga publik value yang dihasilkan. Di Sulbar pada umumnya daya dukung publik cukup baik rakyat tidak terlalu kritis terhadap setiap program bahkan lembaga yang pejabatnya banyak terlibat korupsi  masih tetap mendapat kepercayaan publik dalam elektion.  Untuk itu publik value yang menjadi hak rakyat perlu semakin dipertajam, jangan untuk segelintir dan elitis. Karena untuk bisa memperbaiki peringkat Indonesia, peran daerah dalam mendorong keadilan dan kesejahteraan sangat penting.

Saat ini negara yang berada pada peringkat pertama paling bahagia adalah Norwegia, dan yang paling sial adalah negara Afrika tengah (155). Sementara kita dengan peringkat ke-81 dunia, atau kurang lebih posisi tengah ke bawah perlu diperbaiki tahun demi tahun.  Namun demikian janganlah galau karena  ini bukan ukuran orang perorang, untuk itu saya ingin merekomendasikan disituasi mana pun anda kunci kebahagian itu tidak pada orang lain, tapi pada diri anda sendiri, belajarlah menjadi orang yang tetap sejuk walau ditempat yang panas, tetap manis ditempat yang pahit dan yang lebih penting tetap merasa kecil meskipun anda telah menjadi orang besar.

Dalam 24 jam waktu perjalanan siang dan malam jangan lupa bahagia, minimal 5 kali sehari pada saat anda menghadap sang khalik, sang pencipta sebab disitulah kebahagian yang sesungguhnya, harta dan jabatan adalah kebahagian semu yang hakiki adalah keseimbangan hidup dunia dan akhirat.

Selamat untuk bahagia dan berilah kesempatan  yang lain berjuan untuk kebahagiaannya sendiri.

Oleh : Dr. H. Suhardi Duka,MM

Garuda, 21 maret 2017.

Comments

comments

Check Also

Menuju Pemilu 2019; Partai dan Elektabilitas Caleg

Oleh : DR. H. Suhardi Duka (Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Barat) OPINI, KANDORANEWS.com – Pada …

Adventorial