Tuesday , July 17 2018

Humanisme transenden

oleh : SYARIFUDDIN MANDEGAR
(aktivis Manurung Cultural Center)

Saat ini kita sedang diperhadapkan pada lubang kesenjangan yang kian melebar akibat keawaman dan kafakiran kita sendiri atas segala perilaku sosial yang tidak lagi memihak pada kemaslahatan dimana keadilan dan kemanunusiaan telah menjauhi prinsip-prinsip dasarnya sebagai konsep humanisme trasenden, yakni suatu prinsip kemanusiaan yang tdak meninggalkan nilai-nilai ketuhanan. hal ini menjadi Esensi kesadaran manusia bahwa rapuhnya sistem sosial merupakan hasil dekonstruksi cara berpikir yang logis menjadi cara berpikir positifistik yakni cara berpikir yang hanya menyandarkan segalanya kepada materi sehingga dengan cara berpikir seperti ini telah jaih meninggalkan konsep teologis yang telah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul.

dalam kehidupan ini, godaaan hidup akan tetap ada sepanjang kehidupan ini berjalan tetapi bukanlah hal yang sulit untuk dihindari jika manusia memposisikan relasi primordial Ketuhanannya dengan segala hasrat biologisnya sebagai legalitas moral yang permanen dalam membangun dan menata hubungan sosialya karena untuk membangun kesinambungan kehidupannya manusia akan diperhadapkan pada perbedaan-perbedaaan cara pandang terhadap segala yang berkaitan dengan keberadaan manusia di dunia ini. sehingga dari cara pandang yang berbeda itulah manusia memerlukan sebuah sistem ekonomi, budaya dan politik yang trasenden yang universal karena jika tidak, maka manusia akan kehilangan identitas kemanusiaannya dan pada akhirnya akan saling bermusuhan satu sama lain.

derajat primordial ketuhanan terhadap hakekat kemanusiaan tergantung seberapa besar ruang kesadaran yang kita siapkan untuk mengintegrasi nilai-nilai kemanusiaan itu yang dianutnya kedalam diri setiap individu dimana perilaku sosial adalah realitas objektif untuk mengukur kualitas ruang kasadaran setiap individu.

dengan demikian humanisme trasenden memberikan gambaran bahwa manusia tidak hanya dilihat dari segi biologis namun juga harus dilihat dari segi psikologis yakni esensi manusia sangatlah berbeda dengan binatang walaupun manusia dan binatang keduanya memiliki fisik dan jiwa tetapi manusia diberikan akal untuk berpikir, menganalisa dan mendapatkan pengetahuan. manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk menentukan cara pandang, cara bersikap dan berprilaku dalam kehidupan sosial tetapi sebebas apapun manusia tentu saja tidak bisa memaksakan kebebasanya itu kepada orang lain sebab masing-masing memiliki kebebasan dan hak yang sama yang membedakannya adalah sebarapa besar manusia itu bermanfaat bagi sesamanya.

dalam hal ini manusia memiliki hasrat individual yang disebut dengan hasrat konstan yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan materi dimana manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan kerjasama dengan orang lain akan tetapi wujud atas kerjasama itu tidak akan berjalan sebagai mestinya jika tidak ada norma dan nilai-nilai yang diyakini dapat mengatur pola hubungan setiap individu.

pada posisi ini manusia tidak bisa melepaskan sifat primordialnya dengan penciptanya sebab itulah hakekat kemanusiaan yang sesungguhnya. yang tidak bisa dicerabut dari eksistensi manusia dalam melaksanakan aktivitas sosial politiknya atau bisa juga dikatakan bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk bertahan hidup tidak bisa dijauhkan dari ideologinya yang syarat dengan nilai-nilai trasenden karena itulah yang mampu menciptakan tatanan kehidupan yang humanis. ketimbang mempertahankan kemunafikan dan keterbelakangan. persoalan apakah secara materi manusia mengalami desakan untuk melangaungkan khidupannya tetapi landasan reel moral tentu tidak bisa diabaikan karena stabilitas atau kebahagiaan hidup bukan letaknya semata-mata terletak pada kalkulasi-kalkulasi materi yang dimilikinya melainkan sebagai energi untuk mewujudkan agenda-agenda kemanusiaan yang adil dan memiliki hubungan vertikal.

mungkin bukan hal yang berlebihan jika saya mengangggap bahwa materi itu hanyalah bahagian kecil dari kehidupan ini karena yang lebih besar dari itu adalah kemampuan manusia menjadi rahmat bagi sesamanya. hal tersebut tidak bisa dipandang biasa saja tetapi kausalitas gagasannya adalah sumber yang membangun kesadaran determinan terhadap setiap hubungan-hubungan sosial kemasyarakatan. itulah sebabnya kita perlu menormalkan kembali sistem sosial yang sedang rapuh dengan membawa kesadaran kita pada gagasan Humanisme Trasenden. hal ini menjadi ironis ketika idealitas konsep teoritis dianggap benar tapi pada saat yang sama kita justru menghianati konsep praksisnya. itulah sehingga distabilitas sosial menjadi hal urgen untuk dibincangkan kembali.

sebab dalam tatanan sosial, antara perilaku sosial dengan kepentingan impersonal terjadi disharmoni maka stabilitas sosial tidak terwujud dalam fungsinya yang sungguhnya tetapi menjadi bias negatif pada aspek kemaslahatan bersama sehimgga sangat sulit bagi kita untuk menemukan sinergisitas yang mutlak adanya.
kondisi ini senantiasa menuai kritikan tetapi pelembagaan kritikan yang terorganisir belum kita lakukan tetapi baru sebatas klaim-klaim subjektif setiap individu sehingga kesenjangan sosial makin terasa akibatnya.

tarik menarik antar kepentingan diatas bangunan sosial bukan lagi dibawa pada bagaimana membangun relasi kabajikan antar individu maupun lelompok tetapi kepentingan individu seringkali dikelompokkan untuk saling mendominasi dan menguasai kelompok-kelompok yang lain walaupun keduanya sama-sama mengusung visi moral dan humanisme tetapi hal itu akhirnya mentah akibat cara pandang dan kerangka berpikir kita yang masih bersandarkan pada hukum mekanistik.

karena itu, saat ini manusia butuh instrumen sosial yang humanis dengan tidak meninggalkan akar religius trasenden untuk membangun kerangka bangunan sosial yang trasenden pula karena pada fitrahnya fungsi manusia pada dasarnya menjadi wakil Tuhan untuk menjaga stabilitas sosial yang tentunya bahwa segala seuatunya kembali kepada manusia itu sendiri.

konsensus sosial politik yang terbangun antara rakyat dengan pemerintah dengan segala maslahatnya seyogyanya menjadi ciri penegakan hukum kebenaran yang terlembagakan secara sosial sehingga terbentuklah suatu mekanisme kehidupan yang tidak stagnan tetapi apa yang telah dituliskan dalam bentuk konsensus itu menjadi linear terhadap ekspektasi kemanusiaan artinya sebuah konsensus yang terbangun atas kesadaran bersama untuk membangun relasi-relasi sosial-politik menuju masyarakat yang bermartabat. ******

Comments

comments

Check Also

Semarak, Ikan Bandeng Jadi Menu Lomba Masak Pemuda LDII

MAMUJU, kandoranews.com – Ajang lomba memasak memiliki segudang manfaat. Beberapa diantaranya yakni mendorong kreativitas, melatih indra …

Adventorial