Tuesday , August 21 2018

Gerakan Mahasiswa Daerah Diluar Daerah.

Oleh : Hairil Amri

Ketua Umum IKAMA Sulawesi Barat Yogyakarta (2017-2019)

OPINI, kandoranews.com – Sebaiknya kita tidak mendikotomi antara Organisasi mahasiswa didalam dan diluar daerah, sebab diantaranya memiliki potensi kader yang berbeda, tinggal bagaimana kita mengkonsolidasikan Gagasannya, sebagai bentuk ketidak-apatisan. Hingga kita menyadari bahwa Organisasi menjadi kebutuhan sebagai instrumen gerak menuju penyatuan gagasan dan gerakan secara kolektif. Pada tahap itulah lahir pemuda yang bersikap organisatoris, bukan pemuda yang Apatis atau dengan kata lain yakni, Pemuda Palsu.

Eksistensi organisasi idealnya diukur dari sumbangsi gagasannya sebagai salah satu tolak ukur objektif dalam menilai gerakan. Jika kita ikut mengamati lintasan sejarah yang telah bangsa kita lalui, peranan mahasiswa dan pemuda sangatlah besar dalam memecahkan kebuntuan guna mengisi kemerdekaan, bahkan peranan pemuda dalam kurun waktu pra-kemerdekaan ikut bergerak dan mencatatkan dirinya dalam sejarah, sebut saja Boedi Oetomo, Jong Celebes, jong Java, Jong Borneo, Jong Sumatera dan masih banyak lainya, serta PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang salah satu jebolanya adalah Bung Hatta, yang kemudian menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Sadar atau tidak dan mesti kita akui dengan jujur, bahwa betapa banyaknya Organisasi Kemahasiswaan di daerah yang cakupan gerak dan juangnya menasional (sebut saja organisasi yang tergabung dalam Cipayung) yang sistem kaderisasinya tertata dengan baik, hingga sebagai konsekuensi logisnya eksistensi mereka dalam mengadvokasi dan mengkritisi memiliki bargening position dan pengakuan, baik lembaganya secara umum maupun individu yang melembaga didalamnya.

Lantas bagaimana kita mahasiswa yang berada diluar daerah, apakah kita justru menjadi pembawa budaya baru ke daerah, yang sama sekali tidak sesuai dengan budaya di daerah kita sebelumnya. Ataukah kita menjadi pembaharu di waktu yang akan datang, tapi apakah mungkin kita akan menjadi pembaharu dengan sikap apatis atau minimal hanya paham berseni dan budaya, Apakah cukup dengan hal demikian ?  Bahkan mungkin organisasi kita hanya menjadi penikmat dana pajak yang digunakan untuk membangun Asrama mahasiswa daerah dan segala jenis perawatanya.

Jika benar demikian berarti kita yang melembagakan diri dalam organsisasi daerah sama dengan pemeras masyarakat, yang tak peduli akan penderitaanya. Oleh karena itu, idealisasi organisasi kedaerahan mesti segera kita wujudkan

Genealogi Organisasi Mahasiswa Daerah

Secara defenisi, mungkin banyak dari kita mengartikan organisasi mahasiswa daerah adalah Organisasi atau wadah berhimpunannya mahasiswa yang berasal dari daerah. Agar kita tidak terburu-buru dalam mendefenisikan, ada baiknya kita mendalami genealoginya terlebih dahulu agar dapat menyimpulkan dengan konferhensif.

Berawal dari teks sejarah perjuangan kemerdekaan indonesia bisa kita lihat bahwa para pemuda dengan sadar melihat ketertindasaan bangsanya dari penjajah, Sehingga banyak dari kalangan pemuda membentuk organisasi sebagai wadah memperjuangkan kemerdekaan sebagai tujuan bersama. Begitu juga dengan pemuda yang keluar negeri, dalam catatan sejarah rupanya tidak hanya keluar untuk menuntut ilmu, tetapi mereka juga bergeliat menyuarakan kemerdekaan melalui organisasi yang juga mereka bentuk, yakni PPI (persatuan Pelajar Indonesia).

Gerakan kemerdekaan didalam negeri rupanya semakin menjadi issu yang sangat hangat dikalangan pemuda, maka melalui pemuda dari berbagai daerah mendeklarasikan kesatuan bahasa, kesatuan bangsa, dan kesatuan tanah air, yang kemudian disebut sebagai sumpah pemuda.

Jika kita menelusuri dokumen sejarah dalam deklarasi sumpah pemuda, ternyata pemuda-pemudi daerah dari seluruh pulau besar dinusantara turut dilibatkan serta membentuk sebuah wadah dari masing-masing pulau. Maka saat ini kita akrab dengan istilah Jong celebes, Jong java, jong Borneo dan Jong sumatera. Inilah cikal bakal organisasi pemuda kedaerahan dimulai, dan dalam catatan sejarah tidak hanya tingkat pulau, tetapi juga manca negara dengan lahirnya PPI pada waktu itu.

Dalam beberapa literatur yang saya baca, memang Babak pertama dari organisasi kedaerahan yakni sebagaimana yang saya tuliskan diatas, namun tidak sampai disitu pasca orde lama runtuh dan indonesia memasuki orde baru justru menjadi babak kedua dengan ciri yang lebih spesifik, bahkan sampai pada tingkat kabupaten. dengan sikap pemerintah yang otoriter membuat gerakan kemahasiswaan ditingakat pusat menemui kebentuanya.

Sebelum pecahnya reformasi tahun 1998, organisasi mahasiswa daerah banyak diminati oleh kalangan pemuda-pemudi terkhususnya pada daerah-daerah yang sedang berkembang. Hipotesis ini saya dasarkan pada otoriternya orde baru yang menekan organisasi kemahasiswaan ditingkat nasional, sehingga organisasi nasional menemukan kemandekan dalam menjalankan fungsi kaderisasinya untuk sampai pada tingkat daerah.

Oleh karenanya ketiadaan organisasi yang mengontrol daerah yang sedang berkembang tersebut, Mahasiswa berbondong-bondong membuat wadah sebagai centrum Cendikia asal daerah. Dalam hipotesa ini yang menjadi pengamatan saya adalah HIPERMAJU, KPM-PM termasuk IMIM. Ketiga organisasi mahasiswa daerah tersebut lahir sebelum reformasi, tentu dalam rangka mengawal dinamika pemerintahan di daerah dan sebagai the guardian of demokraci (pengawal berjaalanya demokrasi)

Lantas bagaimana dengan organisasi Mahasiswa daerah yang lahir pasca reformasi, tentu Berbeda pendekatannya. Sebut saja IKAMA SULBAR – JOGJAKARTA berdasarkan Historis yang saya temukan adalah spirit pembentukanya itu berdasarkan pada spirit menyuarakan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, dan dominasi culture sebelum mekarnya Sulawesi barat sebagai Daerah otonomi baru dari provinsi Sulawesi Selatan. Semakin berjalanya waktu organisasi ini justru semakin memperluas tujuannya.

Dinamisasi Organisasi Mahasiswa Daerah.

Dalam lintasan sejarah diatas, dapat kita pahami bahwa setiap organisasi kemahasiswaan mengalami penyesuaian dengan masanya, kemudian berimplikasi pada gerakannya untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskanya. Ini kemudian membuktikan bahwa organisasi juga mengalami dinamisasi dalam gerakanya.

Saya mengutip perkataan sayyidina Ali yang saya anggap pas untuk mengantarkan pembaca dalam konsep dinamisasi yang saya maksud: Didiklah Anak mu (kaderisasi) berdasarkan Akhlak yang sesuai dengan masanya, janganlah akhlak dimasa mu yang kau jadikan ukuran untuk mendidik anak mu, karena bisa jadi akhlak dimasa mu berbeda dengan akhlak dimasa anak mu. Inilah pandangan yang menunjukkan kepada kita relativitas itu mutlak dalam kehidupan, perlu persesuaian.

Jika dalam konteks sejarah Para Pemuda membuat organisasi daerah untuk menyongsong kemerdekaan, maka konteks hari ini tentu bukan lagi untuk menyongsong kemerdekaan, melainkan untuk Mengisi kemerdekaan.

Organisasi mahasiswa kedaerahan menurut hemat saya mesti menjadi the guardian of culture (penjaga nilai-nilai Budaya) sebagai suatu sitem yang telah ada untuk mengfilter arus globalisasi yang secara potensial dapat mendistorsi sejarah dan budaya kita, maka tak heran di beberapa organisasi mahasiswa daerah terdapat gerakan seni budaya disamping gerakan intelektual untuk meretas paradoks dalam tubuh organisasi mahasiswa daerah.

Comments

comments

Check Also

Laporan Study Banding Pengusaha Penggiling Beras

Oleh : DR. H. Suhardi Duka OPINI, kandoranews.com – PT. RUTAN indonesia tanggal 12-13 februari 2018 mengundang …

Adventorial