Sunday , April 21 2019

Budaya & Ilmu Sebagai basis kebangkitan daerah

KandoraNews.com

Oleh:Hairil Amri

Mahasiswa FH UMY (Bidang SDM IPMAJU Jogjakarta)

Semua ambisi itu sah, kecuali yang dicapai dengan menyengsarakan dan menginjak-injak kepercayaan orang lain (Joseph Conrad).

Budaya & Ilmu Sebagai basis kebangkitan daerah  Paska kekuasaan zaman “edan” 1999, dengan ambisi yang besar, indonesia pun telah melawati fase otoliterianisme. Periodik yang diberi lebel “Reformasi” ini di anggap mampu menghantarkan bangsa indonesia lebih dari sekeder pintu gerbang kemerdekaan ; merasuk ke dalam sendi-sendi kesejaterahan lapisan masyarakat paling bawah. Kebebasan berpikir, menjadi senjata utama dalam semangat reformasi sekaligus di yakini sebagai pilar kemajuan suatu bangsa, bangkit dari keterpurukan menuju puncak nominasi kemajuan global. “Mungkin” para perintis reformasi menjadikan sejarah Renaisance (abad 14) sebagai acuan, dimana otoritas gereja kala itu harus tumbang sebagai akibat dari bentuk perlawanan terhadap segala bentuk pengekangan gereja ; mengekang  kemampuan seseorang untuk berpikir. Renaisance kemudian menjadi goresan emas dalam sejarah Eropa membangun bangsanya.

Pada konteks kedaerahan, tetunya reformasi indonesia sedikit banyaknya memberikan perubahan dari kebebasan berpikir untuk seluruh putra/putri daerah yang dahulunya direnggut serta kebebasan berserikat terhadap setiap kelompok masyarakat tanpa diskriminasi. Jika semangat Renaisance melahirkan Revolusi Industri France dan Inggris maka sebaliknya, Daerah kita sedang terserat dalam terowongan panjang pergolakan kepentingan political will. Sehingga menjadi sebuah kewajaran bila mana sekarang gencarnya pergolakan politik menghadapi pemilihan kepala daerah maka Dengan siri’ sebagai budaya lokal seharusnya mampu kita gunakan menjadi tameng untuk money politic.

Lima belas tahun telah kita lalui -masa reformasi- Terbukanya kran demorasi yang tentunya membuka kesempatan bagi putra dan putri daerah untuk tampil sebagai kepala daerah. lembaga pendidikan sebagai basis yang melahirkan kawacandra dimuka (mahasiswa) guna membawa daerah bangkit dari keterpurukan, akan tetapi dalam sorotan kaca mata budaya hampir tidak ada yang termuat di dalamnya – senantiasa mengalami kakacauan hingga tidak membentuk generasi yang sadar akan budaya lokal daerah. Seharusnya dengan merekonstruksi siri’ sebagai budaya lokal dapat menjadi kekuatan untuk masyarakat dalam hal mengkritisi para calon pemimpin serta pemimpin sekalipun yang memperlihatkan etika politik yang kurang baik.

Budaya dan Ilmu Sebagai Basis Kebangkitan 

Dengan melihat perkembangan zaman serta kemajuan peradaban, Budaya Manakarra menjadi kekuatan sendiri dalam membangun dan menuju kemajuan sebagai Kota yang berbudaya. Dengan Mengkrtik idividu – individu yang mengkonsumsi budaya – budaya serta industri eropa tanpa daya kritik dan analisa yang tajam sehingga menjadi peniru dan budak – budak indutri eropa. Bagaimana masyarakat Mamuju untuk tetap mempertahankan kepribadiaan Mamuju sebagai daerah yang berbudaya sehingga kontruksi sosial yang terbangun bukan menjadi masyarakat yang pengasimilasi serta peniru, jika itu terjadi maka masyarakat pada umumnya akan cendrung menjadi konsumen atau peniru dari kepribadian budaya yang lain sehingga eksistensi budaya kita menjadi terancam sebab dari lebih senangnya masyarakat mengkonsumsi budaya serta kearifan budaya yang lain, Kita dapat memanfaatkan barang – barang milik peradaban manusia baik dari timur maupun dari barat tetapi ini sangatlah tidak berlaku bagi kebudayaan yang merupakan manifestasi kesadaran kolektif Manakarra yang datang sejak masa lampau, kelanjutan evolusi kemasyarakatan dan mesti terus bernafas dalam atmosfir kebudayaan Manakarra sehingga arahnya lebih kepada mempertahankan serta menunjukkan eksistensi budaya sebagai identitas Mamuju

Ilmu dipahami sebagai sebuah pengetahuan berdasarkan kenyataan, apa yang ada dalam ruang dan terjadi dibalik waktu. Kemorosotan Daerah tidak serta-merta karena ketelodoran pemerintah atau amuk’an kaum terpelajar melainkan, minimnya gagasan perubahan, mandegnya gerakan pembaharu serta absenya wacana tandingan bagi kaum barat. Hari ini, dunia mengakui kekuatan barat. Intruksinya kerap kali menarik simpati berbagai Negara, baik sektor ekonomi, politik maupun budaya. Barat dijadikan kiblat kemajuan.

Kendati demikian, karena Barat memiliki basisi keilmuwan yang tiada tandingnya. Dari rasa keingintahuaan mendorong para cerdik-cendikianya berupaya memecahkan setiap problematika daerah dan bangsa. Semangat yang tinggi mengharuskan mereka menelusuri seluk-beluk dunia : melampaui samudra, menundukkan bukit dan menyebrangi lautan. sekali lagi hanya untuk membangun hasanah keilmuwan melalui pengetahuan empirik. Albert Einstein, Charles Darwin, John Look, Khore Hitti sampai pada yang baru-baru ini M.C. Ricklefs adalah deretan nama para tokoh barat mengagumkan. Demikian sengitnya keuletan mereka dalam membangun budaya keilmuwanya, sesampai Bahgdad (Irak) sekalipun menjadi sasaran ganasya. Seperti tulisan Bernard Lewis bahwa barat mengejar ketertinggalannya dari Timur melalui bangunan sains dan ilmu pengetahuan.

Mahkama sejarah telah membuktikan bahwa jantung kebangkitan suatu daeah terletak pada sejauh mana daerah tersebut menyadari ketertinggalan dan kemudian mengejarnya. Entitas daerah kita jangan sampe mengalami stagnasi keilmuwan, tidak lain karena kesedaran yang terbangun bukanlah kesadaran kritis tetapi kesadaran berdasarkan keinginan semata, hingga pada akhirnya merongrong para kaum terpelajarnya ikut tenggelam dalam kebisingan : mahasiswa menjadi apatis, pragmatis, malas terlibat gerakan pembaharu pada tingkat ekstremnya tugas pun di copy-paste. Kesemuanya adalah konsekuensi dari miskinya tesis perubahan.

Merajut cita

Menenggelamkan diri ke dalam sejarah sambil mengingat peristiwa penting dan ciri khas Mamuju yang disebut Manakarra sebagai identitas daerah yang berbudaya. Prestasi serta capaian gemilang daerah dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan tapi bukan kebangkitan. Artinya, kita tetap berada pada lubang yang sama dengan memiliki wajah berbeda –kita maju dari masalah yang satu menuju masalah yang lain-. Lagi, lagi dan lagi tidak bangkit dari keterpurukan. Kemajuan suatu daerah tidak di tentukan melalui capaian prestasi pemerintahan tetapi pada kesemakmuran rakyatnya, jadi rakyat adalah prioritas, seperti kata Aristoteles : obyek dari Negara adalah rakyatnya. Kesemakmuran dapat tercapai bilamana rakyat memiliki kemampuan (ilmu) untuk bangkit dari keterpurukan : sosial, politik, ekonomi dan budaya. Lalu kemudian mengelola sumber daya alam dan ketata negaraanya secara mandiri.

Dari sini pemuda harus sadar bahwa dipundaknya terdapat masa depan budaya dan daerah. Sebab zaman tak mungkin bergerak tanpa adanya tangan-tangan muda yang menggerakanya. Secara sederhana daerah kita akan keluar dari kemelut keterpurukan apabila tugas dasarnya dijalankan secara baik dalam arti sebenarnya. Pendidikan, adalah belajar dan mengajar secara sadar. sekaligus di kontruksi kembali bahwa pendidikan harus menginternalisasikan budaya lokal tidak sekedar menghadirkan para cerdik-cendikia tetapi pendidikan yang memberi modal awal untuk melakukan perubahan sosial. Penelitian, tidak ada klasifikasi antara dirinya dengan rakyat sebab pemuda sendiri adalah rakyat, dari sini dapat menimbulkan sinergitas antar sesamanya untuk bangkit dari bentuk pembodohan. Pengabdian, yang disebut pengabdian adalah sesuatu yang tiada habisnya, suatu hal mutlak dan harus dilakukan sepanjang kemampuanya. sebab perubahan besar tidak terlaksana dengan mengabaikan kewajiban kecil.

 

 

Check Also

Kapolda Sulbar Terus Himbau Jaga Kondusifitas Pasca Pemilu

MAMUJU, KANDORANEWS.com – Ucapan terima kasih Kapolda Sulbar Brigjen Pol Drs Baharudin Djafar kepada seluruh …