Sunday , January 20 2019
Breaking News

Batu Dalam Perspektif Gaya Hidup dan Sejarah Bagian I.

Oleh: Muhammad Munir Penulis Aktif di Appeq Jannangang, Inisiator Komunitas Rumah Pustaka-Balanipa.

Pengantar

Dalam sebuah diskusi sejarah dengan teman-teman Appeq Jannangang di Rumah Buku-Balanipa. Saya sedikit mengurai tentang abjad A sebagai huruf pertama dalam susunan aksara latin. Mengapa A bentuknya Piramida. Ternyata dalam pandangan Bapak Nurdin Hamma memang lahir dan tercipta di Mesir. Mesir adalah salah satu kelompok manusia yang telah memulai membangun peradaban yang maju di lembah-lembah tempat mengalirnya Sungai Nil yang diapit oleh Gurun Barat dan Gurun Timur di Afrika bagian utara.

Peradaban Mesir mencapai puncak kecemerlangan saat Menes berhasil mempersatukan Mesir wilayah hulu Nil dengan Mesir hilir, 3200 SM dan berhasil menjadi Fir’aun pertama. Saat Nabi Musa masuk memimpin kaumnya agar bebas dari perbudakan, Mesir sudah 900 tahun menjadi bangsa yang besar secara politik dan ekonomi, meski kekuasaan dikendalikan dengan cara yang keji.

Peradaban maju Mesir berlangsung hingga 300 tahun SM saat Iskandar Agung berhasil menaklukkan Mesir. Setelah Iskandar yang agung wafat, salah seorang Jenderalnya berhasil mendirikan dinasti baru yang dikenal dengan Dinasti Ptolemeus. Namun dibawah kendali Ptolemeus masa cemerlang Mesir berangsur-angsur meredup. Sampai Ratu Cleopatra yang naik tahta di tahun 51 SM saat berusia 17 tahun, Mesir sudah masuk dalam periode memudar (lemah secara ekonomis maupun secara militer). Adapun yang membuat Ratu Cleopatra termasyhur tidak lebih karena legenda percintaannya dengan Marcus Antonius, salah seorang jenderal perang penguasa Romawi, Julius Caesar. Saya kemudian berfikir bahwa jangan-jangan huruf B itu ditemukan dan tercipta di Sulawesi, sebab meminjam istilah Zulfihadi (Zul Elang Biru) orang Sulawesi akrab dengan huruf B yaitu Besi, Batu, Bitte (bela diri) dan Belo (perhiasan). Hehehe ! (Bercanda). Tapi usut punya usut ternyata memang keempat empatnya itu nyaris bisa ditemukan dalam keseharian orang Sulawesi dalam sejarah peradabannya, sejak zaman Sebelum Masehi sampai hari ini.

Tulisan saya kali ini fokus membincang batu dalam perspektif gaya hidup dan dalam tinjauan sejarah.

Batu dalam perspektif gaya hidup.

Saya yakin pembaca akan langsung sepakat bahwa mendengar batu disebut, pasti kepikiran pada batu akik dan batu mulia yang lagi trend global saat ini. Sebutlah misalnya di Mandar, ada Batu Tenggelang, Batu Ngalo dan ada juga batu sungai Mandar serta jenis batu lainnya yang menjadi incaran para pecinta batu.

Tapi saya tidak dalam rangka membincang batu akik yang dibentuk jadi batu permata di cincin, liontin dan lain-lain. Saya ingin membincang batu dalam sudut pandang yang lain, yaitu penelusuran sejarah melalui batu. Namun meski begitu, saya ingin sedikit mengapresiasi para pecinta batu akik dan batu mulia lainnya, bahwa hobi itu bukanlah sebuah bentuk eksploitasi terhadap kekayaan alam kita, dan tentu saja tidaklah seberbahaya dengan proyek tambang batu gajah.

Batu akik atau batu mulia adalah sebuah hobi yang seumuran dengan usia peradaban dan mencintai batu adalah sebuah proses kreatif yang mesti diapresiasi. Dalam Kitab suci Al Qur’an salah satu nama surahnya itu adalah Al Hadid, dan ini tentu saja merupakan tugas kita disamping memakai batu sebagai perhiasan, hati para pecinta batu juga harus selalu dilingkupi dengan sentuhan spirit berupa pesan-pesan ilahiyah.

Adalah jamak difahami, bahwa batu mulia itu adalah batu pilihan yang ditemukan dari sebuah proses panjang dan melelahkan, serta ada yang mempunyai sebuah kekuatan gaib untuk bisa digunakan sebagai penjaga diri dari gangguan makhluk halus maupun manusia. Ini mungkin akan menjadi polemik bagi kalangan ustadz-ustadz, tapi tidak bagi para pecinta batu itu sendiri. Bahkan saya yakin para pecinta batu itu akan menghadiahi saya cincin atau liontin dari batu mulia, karna saya mensupport mereka.

Batu dalam perspektif Sejarah

Membincang sejarah, ternyata tidaklah bisa dipisahkan dengan keberadaan batu, baik sebagai artepak, maupun sebagai simbol termasuk periode sejarah kita mengenal zaman batu. Kitab Dardil Nabi Ibrahim adalah rujukan tentang batu, didalamnya menceritakan tentang batu Marjan Merah yang ada di Baitul Maqdis. Lalu di Masjidil Haram, ada bangunan ka’bah yang disitu ada Hajar Aswad, kenapa di Baitul Maqdis itu ditandai dengan Batu Marjan Merah, mengapa Ka’bah ditandai dengan Hajar Aswad?

Dalam perang Khandak di zaman Rasulullah, saat penggalian parit, ada sebongkah batu putih yang membuat Rasulullah turun tangan karna batu itu begitu keras dan tak mempan dengan pukulan para sahabat dan prajurit. Ternyata di batu itu ada informasi tentang masa depan dan abad kejayaan Islam pada masa mendatang. Mengapa moyang kita di Mandar menggunakan simbol batu dalam beberapa assitalliangnya. Kenapa harus batu? Bukan besi, bukan kayu dll. Karena salah satu keistimewaan batu adalah tidak meleleh ketika dipanaskan dengan suhu udara setinggi apapun. Beda dengan besi yang ketika dipanaskan akan meleleh.

Masih tentang batu, selain zaman glasial, perunggu dll. Kita juga mengenal periodisasi sejarah tentang manusia di nusantara Indonesia termasuk Sulawesi (Mandar), dengan periodesasi sejarah yang salah satunya adalah zaman batu. Seperti yang ditulis dalam berbagai buku sejarah, menjelaskan bahwa zaman prasejarah itu adalah zaman yang meliputi zaman batu tua, zaman batu pertengahan dan zaman batu baru. Muhammad Ridwan Alimuddin (2003) menulis, Jika zaman itu diurai penelusurannya, dapat dimulai sejak, adanya penggalian daerah Sampaga pada bulan Mei 1933 di Lembah Sungai Karama Kabupaten Mamuju yang menemukan beberapa peralatan prasejarah seperti batu dan gerabah.

Kemudian dilanjutkan dengan dua kali penelitian di tempat yang sama di Bukit Kamassiq yang menemukan alat-alat seperti pisau, kapak batu, kapak batu segi empat, mata panah yang halus, beserta pecah-pecahan tenbikar yang berukir. Penggalian pertamanya sendiri dilakukan oleh PV. Van Callenvels pada tahun 1933 di bagian tikur sedangkan penelitian yang kedua dilakukan oleh Dr. HR. Van Hee Karem 1949 menemukan alat-alat batu, seperti kapak batu, yang ada kemiripannya dengan Neolithic di Luzon (Philipina), Manchuria (Mongolia), Hongkong dan sebagainya. Penelitian yang dilakukan di bagian selatan puncak Magassi’ ini juga ditemukan gerabah berhias yang dinilai oleh para arkeolog telah menunjukkan keteraturan kebudayaan di daerah Kalumpang Kabupaten Mamuju ini terlingkup dalam satu wilayah Sa-huynh Kalanay, Philipina, Vietnam dan beberapa daerah di kawasan Pasifik.

Hal berikutnya juga pernah dilakukan oleh Dr. FDK Bosch yang mencoba membandingkan hasil temuan Amiruddin Maula salah seorang tokoh pendidik di Kabupaten Majene yang menemukan Patung dan dibandingkannya dengan patung Budha dari Solok Sumatera Barat, Kotabangun Jambi, Kalimantan Barat, Gunung Lawu, Jawa Tengah,

Kesimpulannya, tidak ada satupun kemiripan atasnya. Dan setelah dibandingkan dengan patung budha yang ada di India, Muka dan Gandhara, disimpulkan kemudian bahwa patung tersebut dipengaruhi oleh gay dan kemiripan dengan Budha Greeco yang ada di India Selatan yang beraliran kesenian Amarawati yang juga sangat besar pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-2 dan 7 Masehi.

Post :KandoraNews.com

Check Also

Menapak Kerinduan

Menapak Kerinduan Pendar cahaya kini perlahan mulai meredup. Malam… Malam… Aku berada dalam kesunyianmu. Terjerembab …