Tuesday , March 19 2019

Wajah pendidikan indonesia ”Catatan Hari Pendidikan Nasional”

KandoraNews.com

Oleh:Hairil Amri

(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Kalau kamu tidak mampu sabar dalam belajar maka siapkan diri mu menerima dan menahan pahitnya kebodohan, karna sesungguhnya kesabaran akan melahirkan kemenangan yang  istimewa.

Pendidikan adalah proses belajar yang terus menerus sepanjang hayat, dalam konteks yang lebih luas dan tapa batas. Tujuanya tak lain untuk memanusiakan manusia. Berbicara tentang Pendidikan ada ungkapan dari salah satu kaisar jepang yang sangat menarik dan pantas untuk kita renungkan, pada saat itu jepang jatuh dari lawan nya saat perang dunia ke 2 (dua) dengan adanya peristiwa pengeboman di dua kota inti dari negara jepang yaitu Hirosima dan Nagasaki, setelah melihat daerah yang amat penting dari jepang hancur porakporanda kaisar mengatakan ‘’berapa Guru yang Tersisa?’’ sangat menakjubkan sebab bukan keluarganya yang kaisar cari lebih awal.

Tanpa bermaksud menafikkan dan memandang sebelah mata capaian angka – angka kemajuan yang telah di torehkan oleh mantan Presiden SBY di atas selama kepemimpinanya, hanyalah saja angka – angka tersebut bukan lah Ruh dari kebangkitan itu sendiri untuk bangkit bersaing dengan negara – negara maju lainya hemat saya Ruh dari kebangkitan itu ialah kebangkitan budaya Ilmu. Semoga saja kita tidak lupa (tidak tahu) sejarah bahwa awal kebangkitan barat adalah kebangkitan budaya ilmunya, barat bangkit dari ketertinggalanya karna mengambil budaya ilmu dari timur (islam) bahkan menghancurkan dengan pembakaran buku – buku di perpustakaan baghdad (Irak) pada tahun 1258 Masehi.

Pendidikan yang ada pada saat ini dapat dikatakan kurang dari apa yang bangsa indonesia cita – citakan yang dimana seharusnya menjadi pencetak generasi dan pencetak karakter pemimpin berubah menjadi pencetak karakter korup. Dapat kita analisa bahwasanya sistem pendidikan yang ada pada saat ini cendrung membuat peserta didik menjadi pengikut – pengikut dari tenaga pengajar, dengan hal yang seperti ini peserta didik tidak mampu belajar secara mandiri maka boleh jadi peserta didik yang mengikut terus mendapat nilai yang tinggi, tetapi tidak di bekali soft skill atau kemampuan secara mandiri, maka jangan heran kalau orang yang terkenal nakalnya justru ia yang sukses, lain hal dari itu pemerataan terkait dengan infrastruktur dan kemampuan tenaga pengajar yang tidak merata apa yang ada di kota besar dan apa yang ada di pedesaan (konteks pendidikan) maka menjadi barang pasti bila mana tingkat pengetahuan yang ada di kota lebih maju dibanding dengan dipedesaan. Namun lain hal dari itu, fenomena yang lain terjadi pada rana pendidikan yaitu dengan adanya kebijakan yang biasa kita sebut UN ini sangatlah miris karna bentuk soal itu disamakan antar sekolah yang maju dan sekolah yang tidak maju ini menjadi rangsangan tertentu untuk melancarkan hal yang seharusnya tidak terjadi dalam dunia pendidikan ialah pembeberan jawaban selain dari itu membangun mindset berfikir perserta didik lulus dengan nilai yang memuaskan yang menghalalkan segara cara dan melupakan hakekat pendidikan; memanusiakan manusia. Pemerataan infrastruktur dan kemampuan tenaga pengajar sangatlah urjen untuk di realisasikan, sebab dari untuk mendorong tercapainya tujuan negara kita yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sangat tidak boleh kita nafikkan bahwa sedikitnya anggaran yang di kucurkan untuk perubahan pendidikan sesuai aturan dalam UUD 1945 dalam Pasal 31 ayat 4 yang menganggarkan pendidikan kedalam APBN sekurang – kurangnya dua puluh persen. Tentunya belum cukup apa lagi dengan tidak meratanya faktor – faktor pendukung dari pendidikan.

POLITISASI PENDIDIKAN.

Pendidikan pada dasarnya selalu bersinggungan dengan kekuasaan, proses hegemoni yang berlangsung secara masif dan terstruktur dalam pendidikan,tujuanya tidak lain untuk melangengkan kekuasaan. Sehingga perlunya telaah kritis, tidak hanya dalam kebijakan yang tampak, tetapi juga dalam kebijakan kurikulum yang terkadang di dalamnya mengandung unsur kepentingan ideologis, dapat kita contohkan setiap pemimpin yang baru pasti kepala instansi pendidikan terganti, setiap pimimpin yang baru pasti kebijakan yang terkait dengan pendidikan terus berubah, maka semakin tidak jelaslah kemana arah pendidikan yang ada dan semakin memperjelas pula politisasi pada rana pendidikan itu terjadi.

Pada dasarnya pendidikan tidak bebas dari nilai (free value) seperti yang kita yakin pada saat ini dia mempunyai aspek dan konteks yang luas dengan berbagai macam idiom yang meliputinya maka ia akan selalu bersentuhan dengan realita yang terdekat denganya sehingga terkadang pendidikan dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan, pendidikan tentunya tidak berdiri sendiri dia dibawah naungi kepentingan kelompok dan idiologis tertentu yang menyelipkan kepentingan tertentu. Nilai yang berkembang dalam suatu kultur di masyarakat di doktrin kan kepada peserta didik agar nilai yang dihegemoni tetap eksis dan guru menjadi media doktrin serta sekolah menjadi tempat penanaman ideologis tersebut maka dengan sistem yang seperti ini membangun pola pendidikan yang pragmatis maka barang pasti keluaran dari pola yang seperti ini menjadi pragmatis pula dan lambat laun menghancurkan bangsa sendiri.

Pendidikan yang rendah mengakibatkan kualitas SDM yang rendah, Kualitas SDM yang rendah menyebabkan produktifitas yang rendah, produktifitas yang rendah menimbulkan pendapatan yang rendah, dan pendapatan yang rendah menyebabkan kualitas pendidikan yang rendah, betapa Urgen nya pendidikan.

 

Check Also

LDII Ikuti Diskusi Pola Hidup Halal BPJPH-MUI Sulsel

MAKASSAR, KANDORANEWS.com – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Republik Indonesia bekerjasama dengan Bidang Informasi …